Ilustrasi(MI/LILIK DARMAWAN)
HARGA kedelai impor nan melonjak berakibat pada perajin tempe di Banyumas, Jawa Tengah. Perajin makin kelimpungan lantaran sebelumnya harga plastik nan naik tinggi.
Harga kedelai impor dalam sepekan terakhir terus mengalami kenaikan. Harga bahan baku utama tempe itu naik sekitar Rp100 per kilogram (kg) setiap hari hingga sekarang menembus Rp10.500-Rp10.600 per kg. Sebelumnya, nilai kedelai impor tetap berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kg.
Salah satu perajin tempe, Bakhur Fauzi, di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran mengatakan bahwa lonjakan nilai mulai terasa sejak sekitar satu minggu terakhir.
“Sekitar Minggu lampau mulai naik. Memang kenaikannya berjenjang sekitar Rp100 setiap hari, sekarang sudah mencapai Rp10.600 per kg,” ujar Fauzi, Rabu (20/5).
Tidak hanya nilai kedelai, biaya produksi lainnya juga ikut meningkat. Harga plastik pembungkus tempe, misalnya, naik cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu semakin membebani produsen nan tidak seluruhnya menggunakan daun pisang sebagai kemasan. “Harga plastik cerah ukuran 4 kg nan sebelumnya Rp24.000, sekarang menjadi Rp34.000,” katanya.
Meski ongkos produksi meningkat, para produsen tempe mengaku belum berani meningkatkan nilai jual. Mereka cemas konsumen bakal keberatan jika nilai dinaikkan. Di sisi lain, produsen juga enggan mengurangi kualitas maupun ukuran produk demi menekan biaya produksi. “Harga jual tetap sama. Kalau dinaikkan pembeli protes. Saya juga tidak mau mengoplos bahan lain alias mengurangi ukuran tempe,” ujar Fauzi.
Fauzi memproduksi beragam jenis tempe, mulai dari tempe mendoan, tempe papan, tempe munthuk hingga tempe srapah. Saat ini, tempe papan ukuran 2 kilogram dijual Rp28.000 per buah, tempe daun isi dua lapis Rp1.000, sedangkan tempe munthuk dan tempe srapah dijual Rp800 per bungkus.
Ia menduga kenaikan nilai kedelai berangkaian dengan perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pasalnya, bahan baku nan digunakan merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat. “Bisa jadi lantaran akibat dolar naik, lantaran kedelai nan dipakai impor dari Amerika,” katanya.
Dalam sehari, Fauzi bisa memproduksi sekitar 500 balut tempe dengan kebutuhan bahan baku mencapai 30 kilogram kedelai per hari.
Perajin lainnya, Damilah, juga merasakan kebingungan lantaran nilai kedelai melonjak. “Saya tidak berani meningkatkan nilai tempe, takut jika kelak tidak ada nan beli. Apalagi sekarang daya beli juga belum baik,”katanya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·