Jogja Good & Baverage Expo.(MI/Agus Utantoro)
PELAKU upaya makanan dan minuman menghadapi tekanan akibat kenaikan nilai bungkusan plastik nan dipicu situasi global, termasuk bentrok di area Teluk. Kenaikan nilai apalagi disebut mencapai hingga 100 persen.
Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengatakan kondisi tersebut banyak dikeluhkan pelaku usaha. “Harga plastik mengalami kenaikan hingga 100 persen. Kondisi ini kemudian banyak dikeluhkan,” ujarnya di sela pembukaan Jogja Food & Beverage Expo 2026 di JEC, Yogyakarta, Rabu (8/4).
Ia menjelaskan, kenaikan nilai dipengaruhi keterbatasan pasokan dan berkurangnya produksi dari produsen plastik. Dampaknya, biaya bungkusan produk di industri makanan dan minuman meningkat sekitar 30% hingga 60%.
Adhi meminta pelaku upaya mencari pengganti untuk menyiasati kondisi tersebut. “Pelaku upaya perlu mencari solusi agar tetap bisa menjalankan upaya di tengah kenaikan biaya kemasan,” katanya.
Jogja Food & Beverage Expo 2026 nan berjalan hingga Minggu (11/4) menjadi arena bagi pelaku industri untuk mencari solusi dan inovasi. Pameran ini diikuti 120 peserta, termasuk pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sambutan tertulis nan dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, berambisi pameran ini dapat membuka kesempatan pasar. “Harapannya juga bisa membuka akses baik nasional maupun internasional,” ujarnya.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan pameran tersebut menampilkan beragam penemuan sektor pangan. “Kegiatan ini menampilkan teknologi food processing, peralatan dapur profesional, hingga bahan baku berbobot dan functional ingredients,” katanya.
Menurut Daud, beragam solusi juga dipamerkan untuk menjawab tantangan industri, seperti teknologi pengemasan ramah lingkungan, mesin produksi otomatis, hingga sistem keamanan pangan.
Adhi menambahkan, pameran seperti ini krusial untuk mendorong kemajuan industri, terutama bagi pelaku upaya mini dan menengah. “Dengan beragam pameran, pelaku UMKM bisa memperbaiki kualitas produk hingga bisa menembus pasar ekspor,” ujarnya. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·