ilustrasi(Antara)
Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi parameter meningkatnya tekanan pada rantai pasok dunia bahan baku. Kondisi itusekaligus menegaskan bahwa plastik sekarang bukan hanya rumor lingkungan, tetapi juga tantangan ekonomi bagi industri.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut lonjakan nilai plastik dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku, nan berakibat langsung terhadap pengedaran dan kesiapan di pasar. Kondisi ini mulai dirasakan pelaku upaya lantaran kenaikan biaya bahan baku berpotensi menekan margin dan meningkatkan biaya produksi.
Peneliti dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai plastik merupakan komoditas antara nan menopang banyak sektor industri. Gangguan pasokan berpotensi menimbulkan pengaruh berantai hingga ke konsumen melalui kenaikan nilai produk dan tekanan daya beli.
Bagi masyarakat, dampaknya mulai terlihat pada potensi kenaikan nilai produk sehari-hari nan menggunakan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi di tingkat industri umumnya bakal diteruskan ke nilai jual.
Di sisi pelaku usaha, khususnya UMKM, tekanan terhadap nilai bahan baku bungkusan menjadi tantangan serius lantaran berisiko menggerus margin jika tidak diimbangi penyesuaian harga. Situasi ini mendorong industri untuk mulai mengelola ketergantungan terhadap plastik baru sebagai akibat strategis, tidak hanya dari sisi biaya, tetapi juga keberlanjutan pasokan.
Seiring dengan itu, pendekatan penggunaan bungkusan mulai bergeser dari model single-use ke sistem nan lebih efisien seperti reuse dan refill, nan dinilai lebih adaptif terhadap dinamika global.
Salah satu contoh penerapan terlihat pada Air Minum Biru, nan mengembangkan sistem pengedaran berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan. Direktur PT Biru Semesta Abadi, Yantje Wongso, menyatakan bahwa model upaya berbasis reuse membikin perusahaan lebih tahan terhadap perubahan nilai dan pasokan plastik.
“Ketahanan sistem menjadi kunci. Model nan meminimalkan ketergantungan pada plastik baru membikin kami lebih adaptif terhadap perubahan rantai pasok,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan reuse dan refill tidak hanya memberikan faedah lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem operasional nan lebih stabil.
“Ketika pasokan dan nilai tidak pasti, efisiensi penggunaan sumber daya menjadi keunggulan. Reuse dan refill adalah solusi jangka panjang,” katanya.
Dengan tekanan dunia nan tetap berlangsung, pelaku industri diperkirakan bakal semakin terdorong membangun sistem nan lebih resilien, termasuk melalui pendekatan ekonomi sirkular. Perubahan ini menandai pergeseran krusial dalam industri, dari ketergantungan pada plastik baru menuju model nan lebih efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika rantai pasok global. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·