Pembeli memilih bungkusan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026).(ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/hma)
HARGA plastik naik akibat perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat lantaran pasokan bahan baku terhambat. Kenaikan nilai plastik dapat menjadi momentum mengubah kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai.
Tiza Mafira dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik mengatakan plastik selama ini diberikan cuma-cuma pada konsumen. Padahal, ada nilai nan disubsidi oleh pegadang.
"Plastik ada harganya, tetapi, tidak terlihat lantaran selalu disubsidi oleh pedagang dan diberikan cuma-cuma kepada konsumen," ujar Tiza di Jakarta, Rabu (8/4).
Naiknya nilai plastik menjadi keluhan oleh banyak pengusaha mini dan menengah. Sementara itu, pengusaha ritel, ujar dia, lebih dulu menyetop penggunaan plastik sekali pakai.
Ia menyebut ada perbedaan perilaku konsumen saat berbelanja di supermarket dan pasar tradisional.
Banyak konsumen nan membawa tas shopping sendiri saat pergi ke supermarket. Namun, untuk di pasar perilaku itu tidak diterapkan.
"Karena pedagang pasar tetap memberikan (plastik) artinya bukan lantaran konsumen tidak bisa berubah," kata dia.
Ia menyebut naiknya nilai plastik bisa menjadi momentum pedagang upaya mikro, kecil, dan menengah untuk tidak menyediakan plastik bagi konsumen.
Adapun biaya dari penggunaan kantong plastik nan digunakan pedagang makanan, dapat dibebankan pada konsumen alias pedagang memberikan nilai normal jika konsumen membawa wadah sendiri. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·