Ilustrasi(Dok AFP)
KELOMPOK militan Hizbullah dilaporkan berada dalam posisi susah di tengah eskalasi bentrok dengan Israel. Kini mereka semakin mengandalkan Iran untuk mendorong terwujudnya gencatan senjata di Libanon.
Dalam perkembangan terbaru, bentrok di Libanon semakin memanas setelah serangan udara besar-besaran Israel nan menewaskan ratusan orang dalam satu hari. Situasi ini memperumit upaya diplomatik nan tengah berjalan antara Amerika Serikat dan Iran.
Hizbullah Bergantung pada Iran
Berdasarkan laporan terbaru, Hizbullah tidak mempunyai banyak pilihan selain berambisi pada support Teheran untuk menekan terjadinya gencatan senjata di wilayah Libanon.
“Iran mengatakan memperpanjang gencatan senjata ke Libanon adalah bagian dari kesepakatan,” demikian laporan media, menggambarkan posisi strategis Hizbullah nan berjuntai pada sekutunya tersebut.
Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya diterima pihak lain. Israel dan Amerika Serikat menegaskan bahwa Libanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata nan sedang dinegosiasikan.
Iran Tekan agar Libanon Masuk Kesepakatan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa bentrok di Libanon kudu menjadi bagian dari kesepakatan damai.
“AS kudu memilih, gencatan senjata alias perang berkepanjangan melalui Israel”, menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon dapat merusak stabilitas kesepakatan nan lebih luas.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran secara aktif berupaya melindungi Hizbullah sebagai sekutu utamanya di kawasan.
AS dan Israel Tolak Masukkan Libanon
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa bentrok antara Israel dan Hizbullah tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa “Libanon tidak termasuk dalam gencatan senjata”.
Sikap ini diperkuat oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, nan menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah bakal tetap berlanjut.
Desakan Internasional untuk Perdamaian Regional
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata nan lebih luas.
Ia menyatakan bahwa Libanon “harus tercakup dalam perjanjian gencatan senjata”, sembari mengutuk serangan besar Israel di wilayah tersebut.
Barrot juga menekankan pentingnya Iran menghentikan support terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Hizbullah.
Situasi di Lapangan Masih Memanas
Di tengah tarik-menarik kepentingan global, kondisi di lapangan tetap genting. Israel tetap menguasai kekuasaan militer, terutama di udara, sementara Hizbullah terus melakukan perlawanan dengan roket lintas perbatasan.
Konflik nan merupakan bagian dari eskalasi perang regional sejak Maret 2026 ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar, dengan ratusan ribu penduduk mengungsi.
Kesimpulan
Ketergantungan Hizbullah pada Iran menunjukkan bahwa penyelesaian bentrok di Libanon sekarang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik nan lebih luas.
Selama belum ada kesepakatan nan secara definitif mencakup Libanon, kesempatan gencatan senjata tetap berjuntai pada negosiasi antara kekuatan besar, terutama Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·