Seorang visitor memandang melalui teropong senapan sniper dalam aktivitas International Defence Exhibition di Abu Dhabi National Exhibition Centre, pada 20 Februari 2023.(Ryan Lim/AFP)
EMIRAT Arab dan Israel dilaporkan membentuk biaya berbareng untuk mengakuisisi dan mengembangkan sistem persenjataan baru di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah perang melawan Iran.
Menurut laporan Middle East Eye yang mengutip pejabat Amerika Serikat (AS) saat ini dan mantan pejabat AS nan mengetahui pembahasan tersebut, kerja sama itu mencakup pengadaan berbareng sistem pertahanan udara dan teknologi antipesawat nirawak (drone).
Pejabat AS nan tetap aktif mengatakan kedua negara bakal mengejar “akuisisi bersama” sistem persenjataan sebagai bagian dari kemitraan pertahanan baru mereka. Emirat Arab juga disebut dapat mendanai pengembangan teknologi sistem pertahanan udara Israel.
Kesepakatan itu disebut semakin menguat ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara rahasia mengunjungi Emirat Arab selama perang AS-Israel melawan Iran.
Namun hingga kini, kedutaan besar Israel dan Emirat Arab di Washington belum memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.
Teknologi Anti-Drone dan Pertahanan Udara
Sumber nan dikutip Middle East Eye menyebut biaya berbareng tersebut bakal difokuskan pada pengembangan Counter-Unmanned Aircraft Systems (C-UAS) alias sistem antipesawat nirawak, serta teknologi pertahanan udara lainnya.
Mantan pejabat AS mengatakan “banyak uang” telah dialokasikan dalam biaya tersebut dan pengadaan kemungkinan tidak hanya terbatas pada sistem pertahanan udara.
Peneliti senior Institute for National Security Studies di Tel Aviv, Yoel Guzansky, menilai hubungan Emirat Arab-Israel saat ini berada pada titik paling dekat sepanjang sejarah.
“Hubungan Emirat Arab-Israel adalah nan terbaik nan pernah ada. Ini adalah kerja sama paling dekat nan pernah dimiliki Israel dengan negara Arab,” ujarnya.
Menurut Guzansky, pembentukan biaya berbareng merupakan langkah logis mengingat Israel mempunyai teknologi pertahanan canggih sementara Emirat Arab mempunyai kekuatan finansial besar.
“Israel memerlukan duit Emirat Arab. Kami mempunyai teknologi, tetapi kekurangan sumber daya. Emirat Arab mempunyai sumber daya, tetapi kekurangan teknologi,” katanya.
Selama perang pada Februari lalu, Iran meluncurkan ribuan drone dan rudal ke area Teluk sebagai respons atas serangan AS-Israel. Emirat Arab disebut menjadi salah satu negara nan paling terdampak.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee apalagi mengonfirmasi Israel mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personel ke Emirat Arab selama perang berlangsung.
Dorong Aliansi Baru
Kerja sama pertahanan Emirat Arab dan Israel dinilai sebagai kelanjutan dari normalisasi hubungan kedua negara melalui Abraham Accords 2020.
Pada Juni 2025, perusahaan pertahanan Emirat Arab, Edge Group, mengakuisisi 30% saham perusahaan Israel Thirdeye Systems nan mengembangkan teknologi drone berbasis kepintaran buatan.
Profesor studi Timur Dekat Universitas Princeton, Bernard Haykel, menilai kerja sama tersebut masuk logika bagi kedua pihak. “Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari kerja sama pertahanan sebelumnya. Ini masuk logika bagi kedua belah pihak,” jelasnya.
Pengamat Eurasia Group, Firas Maksad, menyebut negara-negara Teluk cemas terhadap hasil akhir kesepakatan Washington dengan Iran, terutama mengenai Selat Hormuz dan ancaman rudal serta drone Teheran.
“Semakin konfrontatif hubungan dengan Iran, semakin dekat Emirat Arab dengan Israel dan mengembangkan hubungan keamanan tersebut,” ujarnya.
Berbeda dengan Emirat Arab, Arab Saudi justru memperluas kerja sama keamanan dengan Pakistan, Turki, dan Mesir di tengah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. (B-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·