loading...
Hujan Hitam nan Mengguyur Iran. Foto/ Viet
TEHERAN - Fenomena hujan hitam nan menyelimuti ibu kota Teheran menyusul serangan udara terhadap akomodasi minyak memicu perdebatan tentang senjata kimia dan musibah lingkungan.
Pada pagi hari tanggal 8 Maret, penduduk Teheran dikejutkan oleh hujan deras berwarna gelap nan mengguyur kota. Fenomena ini terjadi tak lama setelah prasarana minyak dan gas utama Iran diserang oleh pasukan Israel.
Langit kota tertutup oleh kepulan asap hitam tebal dari ledakan depot bahan bakar. Kombinasi jelaga nan melayang dan uap air di atmosfer menciptakan hujan nan mengandung minyak. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kepanikan tetapi juga memunculkan kekhawatiran serius tentang corak peperangan baru nan menargetkan lingkungan.
Asap mengepul setelah serangan terhadap tangki penyimpanan bahan bakar Shahran pada 8 Maret. Foto:Majid Asgaripour/WANA.
Hal ini disamakan dengan "perang biologis".
Kemunculan hujan hitam telah memicu pertanyaan publik tentang kemungkinan adanya corak baru senjata biologis alias kimia. Meskipun para mahir telah memastikan bahwa ini adalah akibat dari kebakaran minyak, sifat berbisa dari hujan ini telah menimbulkan kekhawatiran di antara banyak organisasi internasional.
Menyerang depot minyak nan terletak di dekat wilayah pemukiman padat masyarakat dipandang sebagai tindakan sengaja untuk menciptakan lingkungan hidup nan berbisa bagi penduduk sipil.
Bapak Cleetus, Direktur Kebijakan untuk Program Iklim dan Energi di Union of ConcernedScientists(UCS), memberikan penilaian nan sangat jujur mengenai masalah ini. Beliau beranggapan bahwa para pelaku kudu dimintai pertanggungjawaban atas akibat lingkungan dari tindakan mereka.
"Serangan terhadap akomodasi penyimpanan minyak dapat dianggap sebagai perang kimia, pelanggaran norma internasional, lantaran para penyerang kemungkinan mengetahui ancaman nan bakal dihadapi penduduk sipil nan tinggal di Teheran," kata Cleetus.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·