
Kesehatan mental ibu bisa pengaruhi ASI. (Foto: Freepik)
KESEHATAN mental ibu setelah melahirkan menjadi aspek krusial nan berpengaruh terhadap proses menyusui. Tekanan emosional, rasa cemas, hingga stres berkepanjangan dapat memengaruhi produksi air susu ibu (ASI).
Hal tersebut utamanya terjadi ketika ibu menghadapi masalah family maupun tekanan sosial di lingkungan sekitar. Karena itu, krusial menjaga kesehatan mental ibu.

1. Rentan Stres dan Alami Tekanan Emosional
Tidak sedikit ibu baru mengalami beban psikologis setelah persalinan. Perubahan hormon, kurang tidur, penyesuaian mengurus bayi, hingga tuntutan menjadi orangtua nan sempurna sering kali membikin kondisi emosional menjadi tidak stabil.
Situasi bisa semakin berat ketika anak mengalami masalah sosial. Di antaranya, ada bullying alias tekanan dari lingkungan nan memicu kekhawatiran berlebih pada ibu.
2. Berdampak ke ASI
Dilansir dari Brestfeeding Network, secara medis, stres dapat meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Hormon ini diketahui dapat mengganggu kerja hormon oksitosin dan prolaktin nan mempunyai peran krusial dalam produksi serta pengeluaran ASI.
Akibatnya, ASI menjadi lebih sedikit. Tak hanya itu, alirannya juga menjadi tidak lancar, apalagi ibu merasa kesulitan menyusui meski kebutuhan bayi meningkat.
Selain memengaruhi jumlah ASI, kondisi mental nan terganggu juga dapat berakibat pada kualitas hidup ibu. Stres berkepanjangan dapat menyebabkan kelelahan, gangguan tidur, mudah marah, hingga meningkatkan akibat baby blues dan depresi pascamelahirkan.
Ketika anak menjadi korban perundungan alias bullying, tekanan emosional pada ibu pun sering meningkat. Banyak ibu merasa sedih, cemas, apalagi menyalahkan diri sendiri atas kondisi nan dialami anak.
Jika tidak ditangani dengan baik, tekanan tersebut dapat memicu stres berkepanjangan. Hal itu akhirnya memengaruhi kesehatan bentuk dan psikologis ibu.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·