Ifishdeco Raup Pendapatan Rp1 Triliun di Tengah Dinamika Harga Nikel

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ifishdeco Raup Pendapatan Rp1 Triliun di Tengah Dinamika Harga Nikel Ilustrasi(Dok Ifishdeco)

PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mencatatkan keahlian positif sepanjang kitab 2025. Emiten tambang nikel ini membukukan pendapatan sekitar Rp1,0 triliun alias meningkat 2,90% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.

Kenaikan pendapatan turut mendorong pertumbuhan untung bersih perseroan. Laba tahun melangkah tercatat sebesar Rp106,5 miliar, naik 6,39% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Direksi PT Ifishdeco Tbk memaparkan capaian tersebut dalam aktivitas Public Expose di Jakarta, Senin (18/5). Menurut Direksi, pertumbuhan keahlian didukung efisiensi operasional dan pengendalian biaya nan melangkah efektif sepanjang 2025.

Direktur PT Ifishdeco Tbk Iwan Luison menerangkan bahwa untung per saham alias earning per share (EPS) tercatat sebesar Rp37,51 per lembar saham. Dari sisi neraca keuangan, total aset IFSH naik 5,2% menjadi Rp1,06 triliun. Sementara itu, total liabilitas turun 13,1% menjadi Rp147,6 miliar dan total ekuitas meningkat 9,0% menjadi Rp913,1 miliar.

Perseroan menilai struktur finansial saat ini cukup solid dengan porsi ekuitas mencapai 86,1% dari total aset. 

"Kondisi tersebut memberikan ruang nan lebih luas bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha.," ujarnya.

Pada sektor operasional, IFSH mengelola dua komoditas utama, ialah nikel dan silika (pasir kuarsa). Volume penjualan nikel sepanjang 2025 mencapai 1,29 juta metrik ton (MT) alias mencapai 59% dari RKAB 2025. Untuk komoditas silika, volume penjualan mencapai 978 ribu MT alias mencapai sekitar 65% dari RKAB 2025.

Kinerja operasional perseroan juga dipengaruhi dinamika nilai nikel global. Sepanjang 2025, rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) berada di level US$15.177,12 per ton, dengan nilai tertinggi mencapai US$16.126,33 per ton pada April 2025.

Di sisi keberlanjutan, IFSH telah menempatkan agunan reklamasi sebesar Rp52 miliar untuk periode 2011–2025. Hingga Maret 2026, luas area penanaman pohon mencapai 177 hektare.

Memasuki 2026, perseroan menyiapkan tiga konsentrasi utama pertumbuhan. Pertama, optimasi pemanfaatan Izin Usaha Pertambangan (IUP) melalui penerapan Good Mining Practice (GMP). Kedua, pengembangan upaya baru melalui penanaman kelapa.

Pasar nikel nasional kemudian dinilai tetap prospektif. Kebutuhan nikel Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 220 juta MT seiring pertumbuhan industri hilirisasi di dalam negeri. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia