Sebanyak 27 negara mengusulkan pendanaan darurat ke Bank Dunia akibat perang nan terjadi di Iran. Berdasarkan laporan Reuters, Bank Dunia tidak menyebut nama negara dan jumlah pendanaan nan diminta dalam arsip internal itu.
Meski demikian, Bank Dunia enggan untuk memberikan tanggapan.
Dilansir Reuters, Minggu (24/5), sebanyak tiga negara nan sudah mendapatkan persetujuan untuk pencairan biaya darurat. Sementara negara lainnya disebut tetap dalam proses.
Sebelumnya, salah seorang pejabat di Kenya dan Irak telah mengkonfirmasi bahwa mereka mengusulkan pendanaan darurat ke Bank Dunia untuk mengatasi lonjakan nilai bahan bakar nan menghantam finansial negara.
Sebanyak 27 negara tersebut merupakan bagian dari 101 negara nan telah mempunyai akses terhadap akomodasi pembiayaan alias pendanaan darurat nan telah disiapkan Bank Dunia. Di dalamnya juga terdapat 54 negara nan terdaftar dalam skema Rapid Response Option milik Bank Dunia.
Melalui sistem tersebut, negara peminjam dapat segera mengalihkan hingga 10 persen dari sisa biaya proyek nan belum dicairkan untuk kebutuhan darurat.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, pada bulan lampau mengatakan bahwa pihaknya mempunyai skema pendanaan darurat nan bisa dicairkan, jumlahnya diperkirakan mencapai USD 20-25 miliar.
Sementara itu dalam kesempatan lainnya, Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan, ada 12 negara nan saat ini berambisi support jangka pendek dari IMF senilai usd 20-50 miliar.
Kevin Gallagher, kepala Pusat Kebijakan Pembangunan Global di Universitas Boston, mengatakan negara-negara lebih bersedia mencari biaya Bank Dunia daripada bermusyawarah dengan IMF. Sebab menurutnya, program IMF umumnya memerlukan langkah-langkah penghematan nan dapat memperparah kondisi sosial suatu negara, contohnya Kenya.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·