Indonesia Butuh Narasi Kebangsaan yang Menyejukkan Hadapi Tantangan Demokrasi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Indonesia Butuh Narasi Kebangsaan nan Menyejukkan Hadapi Tantangan Demokrasi Di tengah derasnya arus info dan kontestasi politik, pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa nasionalisme dan kerakyatan pada dasarnya kudu melangkah beriringan serta saling menguatkan demi menjaga keutuhan dan masa depan Indonesia.(Dok. Istimewa)

POLITIKUS Mahardhika Sukarno alias Didi menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini tidak hanya berangkaian dengan persoalan ekonomi maupun dinamika geopolitik global, tetapi juga arah kerakyatan nan mulai dipraktikkan secara keliru oleh sebagian pihak.

Sebagai cucu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, Didi memandang nasionalisme kudu tetap menjadi fondasi utama dalam setiap praktik bernegara. Ia menyoroti adanya indikasi ketika kerakyatan tidak lagi dijalankan sebagai sistem koreksi nan sehat, melainkan digunakan sebagai instrumen delegitimasi terhadap pemerintahan.

Menurutnya, kerakyatan semestinya berfaedah untuk memperbaiki sistem, bukan meruntuhkan legitimasi negara.

“Kritik terhadap pemerintah adalah bagian krusial dalam sistem demokrasi. Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bermaksud memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka nan terjadi adalah distorsi demokrasi,” ujar Didi dalam keterangannya Rabu (8/4).

Ia menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan akibat serius, terutama di tengah situasi dunia nan penuh ketidakpastian. Polarisasi politik nan dipicu delegitimasi dinilai dapat menggerus persatuan nasional sekaligus melemahkan posisi Indonesia di tingkat internasional.

Demokrasi Harus Berpijak pada Nilai Gotong Royong

Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan kerakyatan Indonesia kudu tetap berpijak pada nilai gotong royong, musyawarah, serta kepentingan bangsa secara keseluruhan. Ia mengingatkan kebebasan beranggapan tidak boleh berubah menjadi perangkat nan menciptakan ketidakstabilan politik.

Menurutnya, Indonesia saat ini memerlukan stabilitas politik nan ditopang kritik konstruktif, bukan serangan nan berpotensi melemahkan legitimasi negara. Nasionalisme, kata dia, tidak hanya berangkaian dengan menghadapi pengaruh eksternal, tetapi juga menjaga kohesi sosial di dalam negeri.

Dorongan Narasi Kebangsaan nan Menyejukkan

Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Didi menyatakan dirinya bakal terus mendorong narasi kebangsaan nan menyejukkan sekaligus tegas dalam menjaga arah kerakyatan nasional.

Ia mengingatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia tidak berakhir pada momentum kemerdekaan, melainkan bersambung dalam memastikan kerakyatan tetap melangkah pada jalur nan memperkuat bangsa.

Di tengah derasnya arus info dan kontestasi politik, pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa nasionalisme dan kerakyatan pada dasarnya kudu melangkah beriringan serta saling menguatkan demi menjaga keutuhan dan masa depan Indonesia. (I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia