Intensitas El Nino di Jawa Timur Menurun, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Terkendali

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Intensitas El Nino di Jawa Timur Menurun, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Terkendali Ilustrasi(Antara)

Fenomena El Nino nan memicu tandus kering di Jawa Timur menunjukkan tren penurunan sejak puncaknya pada 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kekuatan El Nino pada 2026 tetap tergolong lemah berasas parameter ENSO.

“Tahun ini terus melandai dari 2023, 2024, 2025, lampau 2026 ini nilainya tetap 0, belum 1, sehingga El Ninonya lemah dari parameter ENSO,” kata Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, di Surabaya, Rabu (8/4).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan tingkat kekeringan dihitung melalui parameter El Nino–Southern Oscillation (ENSO), ialah pengukuran suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Pada 2026, nilai ENSO tercatat tetap di nomor 0 dan belum mencapai level 1.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, kejadian El Nino mempunyai beberapa tingkatan, mulai dari lemah, moderat, hingga kuat. Di Jawa Timur, intensitas kekeringan akibat kejadian ini disebut mulai mengalami penurunan secara bertahap.

Fenomena El Nino dengan tingkat kekeringan kuat sebelumnya melanda Jawa Timur pada 2023 dan memicu kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah serta menyebabkan kesulitan air bersih bagi masyarakat.

“Yang paling kering untuk wilayah Jawa Timur seperti nan sudah saya sampaikan terjadi pada 2023. Saat itu kita bekerja bersama-sama di Kaliandra untuk melakukan pemadaman melalui helikopter,” ujarnya.

Taufiq mengatakan setelah periode El Nino kuat pada 2023, parameter BMKG menunjukkan kondisi kekeringan tidak lagi berada pada level tinggi dan condong lebih hijau pada peta pemantauan, nan dikenal sebagai tandus basah.

“Pada 2024 sudah mulai bervariasi dan tidak semerah 2023. Tahun 2025 juga lebih landai lagi, petanya semakin hijau,” tuturnya.

Ia menambahkan, nilai ENSO pada 2026 nan tetap berada di bawah nomor 1 diharapkan tidak berkembang menjadi El Nino moderat.

“Harapannya tidak sampai moderat. El Nino tetap berada pada kategori lemah saja,” katanya.

Meski demikian, Taufiq menegaskan langkah mitigasi musim tandus oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap perlu dilakukan guna menjaga ketahanan pangan serta mencegah kebakaran rimba dan lahan.

“Antisipasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah dilakukan secara masif untuk mengantisipasi perihal tersebut,” jelasnya.

BMKG memprediksi kejadian ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kondisi netral hingga pertengahan 2026. Namun, El Nino diperkirakan berpotensi menguat menjadi kategori lemah hingga moderat menjelang akhir tahun dengan kesempatan sekitar 50–60 persen.

Karena itu, BMKG menilai potensi kekeringan tetap dapat terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur sepanjang tahun ini.

“Kondisi ini menyebabkan musim tandus tahun 2026 di Jawa Timur berpotensi lebih kering,” ujarnya. (FL/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia