
Ilustrasi.
TEHERAN - Iran menakut-nakuti bakal memperluas perang hingga ke luar Timur Tengah jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan. Ancaman itu diumumkan Teheran pada Rabu (20/5/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya nyaris memulai kembali kampanye militer terhadap Iran.
Enam minggu sejak Trump menghentikan Operasi Epic Fury untuk gencatan senjata, pembicaraan untuk mengakhiri perang sebagian besar terhenti.
Iran mengusulkan tawaran baru kepada Amerika Serikat minggu ini, tetapi pernyataan publiknya mengulangi persyaratan nan sebelumnya ditolak oleh Trump, termasuk tuntutan untuk mengendalikan Selat Hormuz, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan sanksi, pelepasan aset nan dibekukan, dan penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut.
Trump mengatakan pada Senin (18/5/2026) dan sekali lagi pada Selasa (19/5/2026) bahwa dia nyaris memerintahkan kampanye pengeboman baru, tetapi menundanya pada menit terakhir untuk memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi.
"Saya hanya satu jam lagi dari membikin keputusan untuk (menyerang) hari ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa.
Iran telah berulang kali menakut-nakuti bakal membalas setiap serangan baru dengan menyerang negara-negara di Timur Tengah nan menampung pangkalan AS. Pada Rabu, Iran mengisyaratkan bakal menyerang sasaran nan lebih jauh.
"Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional nan dijanjikan bakal meluas ke luar wilayah ini kali ini," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan nan disiarkan di media pemerintah.
Dalam diplomasi terbaru, instansi buletin Tasnim Iran melaporkan bahwa Menteri Dalam Negeri Pakistan telah tiba di Teheran. Pakistan menjadi tuan rumah satu-satunya putaran pembicaraan perdamaian bulan lampau dan telah menyampaikan pesan antara kedua pihak.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·