Iran Makin Berani-Trump Hilang Kendali, AS Takluk di Timur Tengah?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Respons Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap rentetan serangan terbaru di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan arah baru bentrok nan semakin rumit. Di tengah status gencatan senjata nan semestinya tetap berlaku, Washington terlihat makin berhati-hati untuk menghindari perang terbuka, sementara Teheran terus menunjukkan sikap menantang dan mengeklaim bisa menekan kepentingan strategis AS di kawasan.

Ketegangan terbaru pecah setelah Iran menuding AS melakukan "pelanggaran terang-terangan" terhadap gencatan senjata lewat serangan ke letak peluncuran rudal dan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz. Di sisi lain, militer AS bersikeras bahwa gencatan senjata tetap melangkah meski operasi militer tetap dilakukan.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menuduh kapal-kapal Iran mencoba memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan daya dunia. Tuduhan itu dinilai sangat provokatif lantaran muncul di tengah upaya negosiasi tenteram paling serius sejauh ini antara kedua negara.

Namun, CENTCOM tetap menegaskan bahwa operasi nan dilakukan berkarakter terbatas.

"Komando Pusat AS terus mempertahankan pasukan kami sembari menahan diri selama gencatan senjata nan tetap berlangsung," kata ahli bicara tersebut, dilansir CNN International, Rabu (27/5/2026).

Menurut kajian CNN, pernyataan itu dinilai mencerminkan pola baru Washington nan berupaya mempertahankan gencatan senjata meski Iran terus melakukan tindakan nan dianggap agresif. Sejumlah analis memandang pemerintahan Presiden AS Donald Trump sekarang semakin terdesak untuk segera mengakhiri perang, sebuah kondisi nan justru melemahkan posisi tawar Washington dalam perundingan.

Serangan terbaru sendiri terjadi Senin lampau ketika militer AS melancarkan apa nan disebut sebagai "serangan untuk memihak diri" terhadap letak peluncuran rudal dan kapal di dekat Selat Hormuz. Tak lama kemudian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim sukses "menembak jatuh drone AS dan memaksa drone serta jet tempur AS melarikan diri" sebagai corak "respons timbal balik".

Meski Iran tampil keras, respons Washington jauh lebih hati-hati. Selain tetap menyebut gencatan senjata tetap berlangsung, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dua kali menghindari jawaban langsung saat ditanya soal serangan tersebut dalam kunjungannya ke India.

Pada kesempatan pertama, Rubio berbincang umum soal negosiasi damai. Sementara pada kesempatan kedua, dia menyinggung pentingnya Selat Hormuz tetap terbuka bagi lampau lintas global.

Situasi ini mengingatkan pada serangkaian kejadian pada awal Mei lalu. Saat itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengungkap Iran telah sembilan kali menembaki kapal komersial, menyita dua kapal kontainer, serta melakukan "lebih dari 10" serangan terhadap pasukan AS.

Namun, dia langsung menurunkan tensi pernyataannya dengan menyebut seluruh tindakan tersebut tetap "di bawah periode untuk memulai kembali operasi tempur besar pada titik ini".

Ia juga menggambarkan kejadian tersebut hanya sebagai "serangan kinetik tingkat rendah".

Ketika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth ditanya apakah gencatan senjata sudah berakhir, dia langsung membantah.

"Gencatan senjata belum berakhir," ujarnya saat itu.

Hegseth apalagi sempat memberi kesan bahwa ketegangan di Selat Hormuz terpisah dari perang utama. Ia meminta Iran "bertindak bijaksana" dan memastikan tindakan militernya tidak melewati "ambang batas" pelanggaran gencatan senjata.

Beberapa hari kemudian, AS kembali menyerang akomodasi militer Iran nan disebut bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz. Namun Presiden Donald Trump kembali meremehkan eskalasi tersebut.

"Gencatan senjata terus berjalan. Itu tetap berlaku," kata Trump kepada ABC News pada awal Mei.

Ia apalagi menyebut serangan AS itu hanya sebagai "sekadar sentuhan ringan".

Seperti nan terjadi sekarang, Iran saat itu juga menyatakan gencatan senjata telah dilanggar dan menyatakan meluncurkan serangan balasan.

Persoalan terbesar lainnya adalah Selat Hormuz nan hingga sekarang belum sepenuhnya dibuka. Padahal saat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April lalu, Trump secara tegas menyatakan penghentian serangan hanya bertindak jika Iran segera membuka jalur tersebut.

"Tunduk pada persetujuan Republik Islam Iran untuk membuka Selat Hormuz secara PENUH, SEGERA, dan AMAN, saya setuju menghentikan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," tulis Trump di media sosial saat itu.

Namun pembukaan "PENUH dan SEGERA" seperti nan diminta Trump tidak pernah betul-betul terjadi. Pemerintahan AS sempat mencoba menampilkan optimisme dengan menyebut ada kemajuan pembukaan jalur pelayaran, tetapi hingga kini-tujuh minggu setelah gencatan senjata berlaku-Selat Hormuz tetap mengalami halangan serius.

Dengan terus meremehkan tindakan Iran dan mempertahankan narasi bahwa gencatan senjata tetap berjalan, pemerintahan Trump dinilai menunjukkan kekhawatiran besar untuk menghindari perang berkepanjangan dan segera mencapai kesepakatan.

Trump juga disebut beberapa kali mengabaikan tenggat nan dia tetapkan sendiri bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan, serta enggan memulai kembali operasi militer skala besar meski terus melontarkan ancaman keras.

Kondisi itu dinilai melemahkan posisi negosiasi Washington. Iran diyakini memandang Trump justru lebih terburu-buru mengakhiri perang dibanding Teheran sendiri.

Perbedaan respons terhadap serangan terbaru disebut semakin memperkuat kepercayaan Iran tersebut.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News