Kelompok Wanita Tani Werdiguna saat dilatih memproses sampah dapur jadi nutrisi bagi tanaman anggrek.(Dok. MI)
SAMPAH sisa aktivitas rumah tangga nan biasanya menumpuk di tempat pembuangan sekarang mempunyai nilai baru di tangan kaum wanita Desa Ubung Kaja, Kota Denpasar. Melalui sentuhan kreativitas, sampah rumah tangga alias sampah organik diolah menjadi nutrisi cair nan efektif memacu pertumbuhan tanaman anggrek sekaligus menekan biaya perawatan secara signifikan. Langkah inovatif ini menjadi inti dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) nan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Werdiguna.
Akademisi Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Made Sri Yuliartini, menekankan bahwa kemandirian pupuk di tingkat family adalah kunci pertanian perkotaan nan berkelanjutan.
“Sampah dapur seperti sisa sayuran, kulit buah, hingga air cucian beras mengandung unsur hara mikro dan makro nan sangat dibutuhkan tanaman hias, terutama anggrek nan memerlukan asupan nutrisi secara rutin,” ujar Sri Yuliartini saat ditemui di letak kegiatan, Kamis (14/5).
Proses pengolahan sampah ini dilakukan melalui fermentasi sederhana menggunakan mikroorganisme lokal. Hasilnya adalah pupuk organik cair nan kaya bakal nitrogen dan kalium. Penggunaan nutrisi hasil olahan sendiri ini terbukti bisa memangkas anggaran pembelian pupuk kimia hingga lebih dari 60 persen.
Budidaya anggrek selama ini sering dianggap sebagai kegemaran nan mahal lantaran ketergantungan pada pupuk pabrikan. Kehadiran teknik pengolahan sampah ini mematahkan dugaan tersebut. Para ibu rumah tangga sekarang dapat merawat tanaman hias mereka dengan kualitas ahli tanpa kudu mengeluarkan biaya ekstra.
“Tantangan utama di wilayah perkotaan seperti Denpasar adalah keterbatasan lahan dan besarnya volume sampah organik. Strategi ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus: mengurangi timbulan sampah dari sumbernya dan menyediakan nutrisi tanaman secara mandiri,” tambah Sri Yuliartini.
Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan tidak hanya berakhir pada skala hobi. Tanaman anggrek nan dirawat dengan nutrisi organik mempunyai daya tahan dan kualitas nan kompetitif di pasar tanaman hias. Pola ini menciptakan ekosistem ekonomi hijau nan dimulai dari dapur rumah tangga, tempat sampah tidak lagi dianggap sebagai kotoran, melainkan aset nan mempercantik lingkungan sekaligus meringankan pengeluaran keluarga.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Werdiguna, Ni Luh Putu Sri Gunawati, menyambut baik transformasi tata kelola sampah di lingkungannya. Menurutnya, edukasi ini memberikan solusi nyata bagi para ibu rumah tangga nan mau menyalurkan kegemaran tanpa terbebani biaya tinggi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas aktivitas pengabdian mengenai pembuatan pupuk organik cair dari sampah dapur serta pengetahuan perawatan tanaman anggrek ini. Kegiatan ini sangat berfaedah lantaran menambah pengetahuan dan keahlian personil dalam memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik nan ramah lingkungan dan ekonomis, sekaligus memahami langkah merawat anggrek dengan baik,” ungkap Sri Gunawati.
Ia juga berambisi keahlian nan telah diberikan dapat diterapkan secara berkepanjangan oleh seluruh personil kelompok. Kerja sama ini diharapkan terus melangkah ke depannya untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi family berbasis lingkungan.
Budidaya anggrek selama ini sering dianggap sebagai kegemaran nan mahal lantaran ketergantungan pada pupuk pabrikan. Kehadiran teknik pengolahan sampah ini mematahkan dugaan tersebut. Para ibu rumah tangga sekarang dapat merawat tanaman hias mereka dengan kualitas ahli tanpa kudu mengeluarkan biaya ekstra. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·