Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menyatakan kesempatan gencatan senjata Iran-AS dan Israel terancam gagal.(Dok. BBC)
PELUANG gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berbareng Israel dinilai berisiko besar kandas sejak awal, terutama jika operasi militer terus berjalan di luar cakupan kesepakatan.
Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menyatakan kesempatan gencatan senjata layu sebelum berkembang cukup besar.
"Peluang untuk layu sebelum berkembang cukup besar. Mengingat Israel merasa dirinya tak diajak bicara, dan tiba-tiba Presiden Donald Trump mengakomodir 10 tuntutan Iran," kata Rezasyah dihubungi Media Indonesia, Kamis (9/4).
Menurutnya, kondisi tersebut memicu ketersinggungan di pihak Israel nan kemudian merespons dengan tindakan militer.
"Karena itulah Israel tersinggung dan menyerang Libanon Selatan secara membabi buta," sebutnya.
Rezasyah juga menyoroti potensi eskalasi konflik nan lebih luas andaikan situasi terus memburuk, terutama jika Libanon tetap menjadi sasaran serangan.
Ia menilai Iran tidak sekadar melontarkan ancaman, melainkan siap mengambil langkah nyata.
"Iran tidak main-main dengan ancamannya," ucapnya.
Menurutnya, Iran saat ini berada dalam posisi militer nan relatif lebih unggul dibandingkan Israel, sementara support militer negara-negara Timur Tengah terhadap Israel juga dinilai semakin menurun.
"Selain sudah unggul secara militer atas Israel, kebanyakan negara di Timur Tengah tak berani lagi mendukung Israel secara militer," sebutnya.
Rezasyah menambahkan bahwa keterbatasan penggunaan pedoman militer Amerika Serikat di area turut mempersempit ruang mobilitas Washington.
"Juga banyak pedoman militer AS tak bisa digunakan lagi," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, dia memperingatkan bahwa eskalasi dapat meningkat drastis jika serangan terhadap Libanon terus berlanjut.
"Karena itu, jika Libanon terus diserang, maka pembalasan Iran atas Israel bakal semakin dahsyat," paparnya
Lebih lanjut, Rezasyah menjelaskan perbedaan mendasar dalam memaknai gencatan senjata antara Iran dan Israel. Bagi Iran, kesepakatan tenteram mencakup wilayah bentrok nan lebih luas.
"Bagi Iran, sebuah gencatan senjata adalah mencakup Libanon, Gaza, dan Tepi Barat," lanjutnya.
Sementara itu, Israel mempunyai pendekatan berbeda dengan konsentrasi pada kontrol wilayah nan telah dikuasai.
"Bagi Israel, walaupun perbatasan Israel-Libanon tidak panjang, namun tiap jengkal tanah nan telah direbut tersebut, kudu dipertahankan secara militer dengan kekuatan penuh," pungkasnya.
Perbedaan persepsi ini dinilai menjadi salah satu aspek utama nan membikin masa depan gencatan senjata semakin tidak pasti, sekaligus meningkatkan akibat bentrok berkembang menjadi perang regional nan lebih luas. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·