Janda Sebatang Kara Asal Maros Jadi Ikon Haji Arab Saudi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Di bawah terik langit Makkah, Jumariah berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam nan dia kenakan. Jantung wanita lanjut usia itu berdebar kencang saat kakinya melangkah masuk pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5). 

Momen magis itu pun akhirnya tiba. Air mata Jumariah tumpah berlinang ketika gedung kubus terbungkus kain kiswah hitam megah tegak berdiri persis di depan matanya.

Itulah pemandangan nan dia panjatkan dalam angan selama puluhan tahun silam. Sebuah mimpi nan dia rawat dalam kesendirian, sejak dia berpisah dengan sang suami dan menjalani hidup sebatang kara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya senang bisa memandang Ka'bah," ucapnya lirih saat ditemui tim Kementerian Haji di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, tempat menginapnya berbareng jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14, alias UPG-14.

Kenangan memandang Baitullah itu kembali membikin matanya berkaca-kaca, sebelum jemari rentanya dengan sigap menyeka air mata itu lagi.

Hidup sebatang kara

Jumariah adalah jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ingatannya tak lagi tajam untuk merinci nomor pasti usianya, dia hanya mengingat dirinya sekarang berada di kisaran 70-an tahun.

Di kampung halaman, Jumariah hidup sebatang kara. Saban pagi usai fajar menyingsing, dia memulai ritual hidupnya: memberi makan ayam-ayam peliharaan, membersihkan rumah panggungnya, dan memasak sarapan untuk dirinya sendiri.

Tepat pukul 9 pagi, dia mulai menguji fisiknya. Bermodal sabit, Jumariah merawat kebun ubi milik tetangganya, lampau melangkah 50 meter lagi menuju sawah miliknya nan hanya seluas 15 are untuk menyiangi padi.

"Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, jika sekarang sudah dibantu mesin," kenangnya seraya melempar senyum manis.

Namun, di kembali kesendirian itu, Jumariah sadar dia tidak pernah betul-betul sebatang kara. Ada Tuhan nan selalu menemaninya. Iman itulah nan menggerakkan tekadnya untuk menginjakkan kaki di rumah-Nya, sekecil apa pun celah kesempatan nan dia miliki.

Menabung dalam ember

Jumariah tidak bisa membaca maupun menulis. Jangankan ijazah, dia apalagi tak pernah sedetik pun mengecap bangku sekolah. Namun, ketidakberdayaan itu kalah oleh keteguhan niatnya nan dimulai 20 tahun lalu.

Secara sembunyi-sembunyi, Jumariyah mengumpulkan pundi-pundi duit hasil keringatnya di dalam sebuah ember di rumahnya. "Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember," tuturnya polos.

"Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu," ujarnya.

Pada tahun 2011, setelah isi embernya menyentuh nomor Rp25 juta, dia memberanikan diri mendaftar haji, dituntun oleh kemenakan jauhnya. Sejak hari pendaftaran itu, ritme menabungnya justru kian menggila demi melunasi sisa biaya pelunasan.

Ketika namanya resmi tercantum sebagai jemaah nan berangkat pada musim haji 2026, semangatnya meledak. Jarak 15 kilometer dari rumah menuju letak manasik tak dipedulikannya. Lebih dari 80 kali sesi manasik nan digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dia lahap tanpa tidakhadir sekalipun. Jumariah selalu duduk di barisan paling depan, menyimak lamat-lamat setiap pengarahan muthawwif.

Kini, langkah kaki Jumariyah sedang bersiap menuju rute terakhir dari penantian panjangnya: wukuf di Padang Arafah. Kurang dari sepuluh hari lagi, di bawah hamparan langit Arafah, janda sebatang kara ini bakal berbincang langsung dengan Tuhannya, menuntaskan kerinduan nan selama puluhan tahun ini terkunci rapat di dalam sebuah ember tabungan.

Ikon promosi haji di Saudi

Kisah perjalanan dan perjuangan Jumariah menuju ibadah haji telah diangkat ke dalam dokumenter.

Kegigihan sang nenek akhirnya mengetuk pintu perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Maros.

Profilnya nan luar biasa itu kemudian diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai pemeran dalam video dokumenter "Makkah Route".

"Pertimbangannya lantaran kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di wilayah terpencil, namun sangat menginspirasi," ungkap Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.

Hanya butuh waktu empat jam bagi tim dokumenter untuk merekam kehidupan bersahaja Jumariah di Maros. Siapa sangka, video singkat tentang nenek pencari ubi ini sekarang beralih bentuk menjadi materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026. Jumariah pun sekarang telah menjadi ikon.

(gil)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional