Jangan Coba-coba Makan Utang Untuk Bertahan, Bikin Susah Kaya!

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Jakarta -

Jumlah utang masyarakat pada jasa peer-to-peer (P2P) lending alias pinjaman online (pinjol) dan jasa buy now pay later (BNPL) alias paylater terus meningkat dari waktu ke waktu. Mencerminkan ketergantungan masyarakat pada utang untuk memperkuat hidup.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai di kembali peningkatan jumlah utang pada kedua jasa itu, tentu ada akibat nan tidak boleh dianggap sepele. Semisal kembang utang nan kerap menjadi beban pengeluaran tambahan bagi para debitur.

Di mana beban pengeluaran tambahan dari kembang pinjaman ini membikin daya beli kian Melemah. Pelemahan daya beli ini kemudian memaksa debitur utang berutang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan siklus 'gali lubang tutup lubang'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau lihat growth-nya berfaedah makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik lantaran kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu nan kita lihat daripada pinjaman produktif untuk bumi usaha," kata Tauhid kepada detikcom, Senin (11/5/2026).

Masalahnya siklus ini tak bisa menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat. Sebab menurutnya berjuntai pada utang untuk memperkuat hidup tidak berkepanjangan mengingat rata-rata kenaikan pendapatan tahunan tidak sebesar inflasi alias peningkatan biaya hidup.

"Konsumsi rumah tangga berbasis utang itu tidak sehat lantaran dia kudu bayar kembang utang di bulan-bulan berikutnya. Tetapi pendapatan dia itu kan pertumbuhan kenaikan income-nya tidak sebesar kembang utangnya sehingga konsumsi dia melalui pinjaman online itu menjadi tidak sehat," ujar Tauhid.

Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira juga mengatakan penggunaan utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga berisiko menjebloskan pengguna jasa ke dalam siklus utang.

"Masyarakat bakal terjebak ketergantungan utang nan konsumtif, ketika kesulitan mencicil bakal tergoda meminjam lagi dari platform lainnya," ucap Bhima.

"Kenaikan paylater ini bukan parameter pertumbuhan angsuran nan berkualitas, justru menunjukkan kerentanan. Begitu terjadi sudden shock pada ekonomi, NPL dari paylater bakal naik lebih tajam dari jenis angsuran modal kerja dan angsuran produktif lainnya," tambahnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, alih-alih membantu masyarakat memperkuat hidup, pada akhirnya siklus untang pinjol dan paylater ini membawa mereka masuk dalam golongan miskin secara struktural.

"Bisa jatuh ke kemiskinan secara struktural, lantaran pinjaman konsumtif tidak sesuai dengan kebutuhan. Gagal bayar sangat mungkin terjadi dan aset di gadaikan untuk melunasi pinjaman," tambahan.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance