Jangan Terkecoh Iklan, Ini Kandungan Susu Formula yang Wajib Dicek Orang Tua!

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Jangan Terkecoh Iklan, Ini Kandungan Susu Formula nan Wajib Dicek Orang Tua! Dokter anak mengingatkan orang tua tak terpaku klaim bungkusan susu formula.(Freepik)

ORANG tua diminta tidak asal percaya pada klaim pemasaran saat memilih susu formula untuk anak. Dokter ahli anak konsultan, Reza Fahlevi, Sp.A(K), menegaskan bahwa nan paling krusial justru ada pada daftar komposisi, bukan pada janji manis di kemasan.

Menurut Reza, banyak orang tua berakhir pada label seperti “tinggi nutrisi”, “lengkap”, alias “baik untuk tumbuh kembang”, padahal kualitas produk baru bisa dinilai jika komposisinya dibaca secara utuh.

“Orang tua sebaiknya tidak berakhir pada klaim di kemasan. nan wajib dipahami justru komposisi produknya secara utuh. Dari situlah terlihat kualitas sumber nutrisi nan betul-betul dikonsumsi anak setiap hari,” kata Reza dilansir drai Antara, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan, perihal pertama nan perlu diperiksa adalah bahan nan muncul di urutan teratas dalam daftar komposisi. Susunan itu menunjukkan bahan nan digunakan dalam jumlah paling besar.

Jika susu segar tercantum sebagai bahan utama, kata dia, perihal itu menandakan formula dibuat dari susu segar utuh nan tidak melalui rantai produksi terlalu panjang. Aspek ini krusial lantaran susu merupakan sumber energi, protein, kalsium, fosfor, serta beragam mikronutrien nan berkedudukan dalam pertumbuhan anak.

Namun perhatian orang tua, lanjut Reza, tidak boleh berakhir di situ. Ia mengingatkan agar bahan tambahan dalam susu formula juga dibaca dengan cermat, terutama sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, dan vanilin.

Maltodekstrin, misalnya, merupakan karbohidrat olahan nan sigap dipecah tubuh menjadi gula. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada jika bahan ini muncul di urutan awal komposisi.

Sementara vanilin digunakan sebagai perisa untuk memperkuat rasa, sedangkan sirup jagung menjadi sumber gula tambahan nan bisa meningkatkan asupan gula harian anak. Dalam jangka panjang, paparan rasa manis sejak awal dinilai dapat membentuk preferensi rasa anak.

“Bahan-bahan ini bukan nutrisi utama, namun paparan rasa manis sejak awal dapat membentuk preferensi rasa anak,” ujar Reza.

Ia juga menyinggung peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai pentingnya membatasi konsumsi gula pada anak. Menurutnya, rumor ini semakin relevan di Indonesia di tengah tingginya nomor karies gigi pada anak.

Selain komposisi, Reza menekankan bahwa proses produksi, penyimpanan, hingga penanganan susu formula juga tidak boleh luput dari perhatian. Proses nan terlalu panjang dan pemanasan berulang, kata dia, berpotensi memengaruhi mutu nutrisi produk sebelum dikonsumsi anak.

Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi utama bagi bayi. ASI dinilai paling ideal lantaran lebih mudah diserap dan mengandung antibodi nan membantu melindungi anak dari beragam penyakit.

Dalam kondisi ketika ASI tidak dapat diberikan secara penuh, susu formula memang kerap menjadi pilihan lanjutan. Karena itu, orang tua diminta lebih kritis agar keputusan nan diambil tidak semata berasas merek alias promosi.

“Memilih susu formula bukan sekadar soal merek alias klaim nan terdengar meyakinkan. Ini tentang memahami apa nan betul-betul masuk ke tubuh anak setiap hari. Sudah saatnya orang tua lebih teliti membaca label dan lebih kritis dalam memilih,” kata Reza.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia