Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai pernyataan Saiful Mujani terkait wacana menjatuhkan Presiden Prabowo tidak perlu ditanggapi secara serius oleh pemerintah.
Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan langkah berkata dan tata bahasa nan kurang terukur dari Mujani.
"Biar aja, langkah berkata dan tata bahasa Sjaiful Muzani memang kurang terukur. Mudah dianggap provokatif," kata Jimly saat dihubungi, Jumat (10/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar norma tata negara ini lampau mengkritik substansi pernyataan Mujani nan dinilai tidak sejalan dengan konstitusi.
Menurutnya, pergantian presiden telah diatur dalam konstitusi melalui sistem impeachment.
"Dia tidak percaya pada sistem nan sudah diatur di konstitusi, ialah impeachment, tapi malah mengimpikan melalui people's power. Biar saja jadi pelajaran bagi Syaiful," katanya.
Ia mengatakan pernyataan Mujani itu juga tidak bakal berpengaruh, karena bunyi nan menentang juga berimbang.
"Presiden dan timnya juga tidak perlu tanggapi terlalu serius, santuy aja lantaran tidak bakal berpengaruh. Malah bunyi logis nan menolaknya juga berimbang. Pemerintah tidak perlu respons terlalu serius, biar tidak semakin memperluas ketegangan antara negara vs society," katanya.
Di sisi lain, Jimly juga mengingatkan pemerintah untuk tidak bersikap arogan dalam merespons emosi nan berkembang di masyarakat.
Menurutnya, jika pemerintah bersikap menantang, kemarahan di masyarakat bakal semakin meluas.
"Perlu komunikasi nan lebih lembut dari presiden sendiri. Kurangilah pidato nan meledak-ledak tapi tidak terukur. Belajarlah dari manajemen kepemimpinan Pak Harto nan lebih lembut dengan tutur bahasa nan terukur," katanya
Seskab Teddy Indra Wijaya sebelumnya juga sudah merespons pernyataan Saiful Mujani mengenai rayuan menggulingkan pemerintah. Ia mengaku belum mengetahui pernyataan Mujani itu.
"Saya tetap banyak sekali kerjaan, saya belum lihat beliau bicara apa," kata Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (7/4).
Selain dirinya, dia menyebut Presiden RI Prabowo Subianto juga sibuk dengan urusan nan lebih penting. Ia mengatakan Prabowo berfokus pada hal-hal nan lebih strategis.
"Apalagi bapak presiden, bapak presiden ngurusin perihal besar, lagi konsentrasi dg perihal hal yg lebih strategis," ucap dia.
Sementara itu, Saiful Mujani menyatakan pernyataannya nan menyerukan konsolidasi untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah corak makar, namun bagian dari sikap politik
"Pertanyaannya apakah ucapan saya itu bisa disebut makar? Saya tegaskan itu bukan makar, tapi political engagement, ialah sikap politik alias sikap nan dinyatakan tentang rumor politik di hadapan orang banyak. Politiknya dalam aktivitas itu terutama berangkaian dengan keahlian Presiden Prabowo," kata Mujani dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan sikap politik berada satu tingkat di bawah partisipasi politik alias tindakan politik. Partisipasi politik, kata dia, adalah inti dari demokrasi.
Mujani mengatakan tidak ada kerakyatan tanpa partisipasi politik.
"Partisipasi politik alias tindakan nan ditujukan untuk kepentingan umum bentuknya banyak. Misalnya ikut memilih dalam pemilu, ikut kampanye, ikut nyumbang partai alias calon, ikut tindakan politik seperti demonstrasi, mogok, sabotase, dan lain-lain, nan dilakukan secara damai. Aksi menurunkan presiden secara tenteram adalah partisipasi politik. Itu demokrasi," ujarnya.
(fra/yoa/fra)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·