Jogja Police Watch: Aksi Klitih di Jogja Semakin Brutal

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Aksi Klitih di Jogja Semakin Brutal Ilustrasi(Antara)

AKSI kekerasan jalanan kembali meresahkan masyarakat Jogja belakangan ini. Jogja Police Watch (JPW) menyebut kasus kekerasan jalanan di Yogyakarta alias dikenal dengan tindakan klitih semakin brutal, lantaran para pelaku kian berani tanpa rasa takut melukai korbannya.

Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba, mengatakan bahwa sepanjang Januari hingga April 2026, pihaknya mencatat sejumlah peristiwa kekerasan jalanan nan sangat meresahkan dan menakutkan warga.

Pada pertengahan Januari 2026, terduga pelaku kekerasan jalanan ditangkap di Pasar Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Pada bulan nan sama, seorang penduduk di Padukuhan Watu, Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, mengalami luka dan kudu dilarikan ke rumah sakit akibat tindakan kekerasan jalanan.

Masih pada Januari 2026, seorang pelajar di area Pandak, Bantul, menjadi korban tindakan kekerasan jalanan nan mengakibatkan luka bacokan senjata tajam.

Pada Februari 2026, sekelompok orang bersenjata tajam melakukan kekerasan jalanan di Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Aksi serupa juga diduga terjadi di area Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul.

Pada Maret 2026, kekerasan jalanan terjadi di Jalan Noto Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, nan mengakibatkan seorang pengendara sepeda motor terluka lantaran terkena sabetan gesper (ikat pinggang).

Pada bulan nan sama, sejumlah remaja melakukan kekerasan jalanan di Jalan Ki Mangunsarkoro, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Akibatnya, dua remaja mengalami luka bacok.

Pada April 2026, dua remaja diamankan penduduk setelah kedapatan membawa senjata tajam jenis celurit di area Jalan Samas, Kabupaten Bantul. Pelaku mencelurit kaca mobil.

Selain itu, seorang mahasiswa asal Jambi menjadi korban kekerasan jalanan di Jalan Godean, KM 9, Dusun Senuko, Sidoagung, Godean, pada Minggu (5/4) awal hari. Korban mengalami luka di tangan dan punggung.

Kasus terakhir nan diduga kekerasan jalanan terjadi di area Babarsari, Kabupaten Sleman, dan menyebabkan seorang meninggal dunia. Polisi telah mengamankan dua orang terduga pelaku dan tetap mencari dua pelaku lainnya.

Atas maraknya kejahatan jalanan di DIY, JPW berambisi kepolisian rutin melakukan patroli di sejumlah titik rawan. Peran family juga krusial untuk aktif mengawasi anak agar tidak keluar malam tanpa pengawasan.

"JPW menyambut positif 'Gerakan Orangtua Memanggil' terhadap anak sebelum pukul 22.00 WIB. Poster maupun status WA mengenai aktivitas ini ramai dipasang oleh orang tua," ujar Baharuddin Kamba.

Menurut dia, 'Gerakan Orangtua Memanggil' menjadi salah satu langkah mencegah tindakan kejahatan jalanan nan kembali ramai. Namun, aktivitas ini perlu diikuti dengan pengawasan dan edukasi dari orang tua.

Pengawasan dari orang tua juga krusial saat anak berada di rumah. Anak nan dipaksa terkurung setelah jam tertentu tetap rentan terhadap konten negatif, cyberbullying, konten radikal, kecanduan gawai alias game online, gambling online, hingga pornografi.

"Harapannya, 'Gerakan Orangtua Memanggil' tidak sekadar memindahkan masalah, tetapi betul-betul mencegah tindakan kekerasan jalanan nan semakin marak, brutal, dan tidak masuk logika ini," tutup Baharuddin Kamba. (AT/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia