Kasus Bunuh Diri Anak Indonesia Tertinggi di ASEAN, Pakar IPB Tekankan Kedekatan Emosional

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Kasus Bunuh Diri Anak Indonesia Tertinggi di ASEAN, Pakar IPB Tekankan Kedekatan Emosional Ilustrasi(Freepik)

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), baru-baru ini, merilis info nan memprihatinkan mengenai kesehatan mental generasi muda. Indonesia tercatat mempunyai nomor kasus bunuh diri anak tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Temuan ini menjadi sirine keras bagi seluruh komponen masyarakat mengenai kondisi psikologis anak-anak di tanah air.

Menanggapi kejadian tersebut, Pakar Pengasuhan Anak dari IPB University, Prof. Dwi Hastuti, menekankan urgensi adanya sistem pemantauan info nan lebih komprehensif. Menurutnya, pemerintah dan pihak mengenai perlu mempunyai info surveilans nan berkepanjangan untuk memantau tren bunuh diri serta kenakalan remaja secara kontinu.

Akar Masalah: Keputusasaan dan Hilangnya Harapan

Prof. Dwi menjelaskan bahwa tindakan fatal seperti bunuh diri biasanya berakar dari kondisi keputusasaan nan mendalam. Anak-anak nan merasa kehilangan angan sering kali terjebak dalam pusaran stres, frustrasi, hingga depresi berat nan tidak terdeteksi oleh orang terdekat.

Berikut adalah beberapa aspek pemicu stres pada anak nan perlu diwaspadai oleh orang tua:

Lingkup Pengaruh Faktor Pemicu Stres
Keluarga Kurangnya kedekatan emosional, bentrok domestik, dan minimnya komunikasi.
Lingkungan Sekolah Masalah pertemanan, tekanan akademik, dan aktivitas organisasi.
Dunia Digital Paparan media sosial nan memicu rasa rendah diri dan kesenjangan realitas.
Psikologis Pribadi Kecemasan, kegelisahan, hingga kebencian terhadap diri sendiri.

Pentingnya Kedekatan Emosional Orang Tua

Salah satu tembok utama pencegahan adalah kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Prof. Dwi merinci bahwa pola kedekatan ini berkembang sesuai usia anak. Pada masa prasekolah, peran ibu sangat dominan, namun saat memasuki usia sekolah hingga remaja, kehadiran dan kedekatan dengan ayah menjadi sangat krusial.

"Kedekatan tersebut hanya dapat terbangun andaikan terdapat hubungan nan cukup sejak masa kanak-kanak. Dengan adanya rasa percaya, anak bakal lebih terbuka menyampaikan emosi sedih alias kesulitan nan mereka alami," urainya.

Ia juga menyoroti akibat negatif media sosial nan sering menampilkan style hidup semu. Tanpa pengawasan, anak condong membandingkan hidupnya dengan apa nan dilihat secara daring, nan berujung pada menurunnya rasa percaya diri.

Kolaborasi Ekosistem Pendidikan dan Masyarakat

Pencegahan bunuh diri tidak bisa hanya dibebankan pada keluarga. Sekolah, melalui pembimbing dan kawan sebaya, mempunyai peran vital dalam mendeteksi perilaku menyimpang. Prof. Dwi menyarankan agar setiap temuan masalah pada anak disampaikan secara bijak kepada orang tua tanpa mempermalukan anak tersebut.

Di lingkungan pendidikan, nilai gotong royong dan budaya saling menghargai kudu diperkuat agar siswa merasa didukung saat menghadapi masalah. "Membesarkan anak memerlukan support lingkungan. Dibutuhkan kepedulian berbareng dari seluruh ekosistem masyarakat," tambahnya.

Langkah Preventif bagi Orangtua

Sebagai penutup, Prof. Dwi memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi orang tua untuk membangun karakter anak nan tangguh:

  • Penguatan Parenting: Mengikuti program pendidikan family untuk mengoptimalkan peran pengasuhan.
  • Literasi Digital: Mengawasi akses media sosial dan membatasi lama penggunaan internet.
  • Gaya Hidup Sehat: Mendorong aktivitas bentuk dan olahraga secara rutin.
  • Edukasi Realitas: Mengajak anak memandang kondisi golongan masyarakat nan kurang beruntung untuk menumbuhkan empati dan rasa syukur.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan anak-anak Indonesia mempunyai mental nan lebih kuat dan merasa mempunyai tempat untuk bersandar saat menghadapi tekanan hidup. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia