WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok. Istimewa/MPR)
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong kesadaran hidup sehat dan penguatan imunisasi guna memperkuat sistem kesehatan nasional menyusul terjadinya peningkatan kasus campak sejak awal 2026.
Merebaknya kasus balang di Indonesia sejak awal 2026 dinilai kudu menjadi sirine bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menerapkan pola hidup sehat, dimulai dari lingkungan family sebagai fondasi sistem kesehatan nasional nan kuat.
“Merebaknya kasus balang sejak awal tahun ini kudu menjadi momentum bagi kita untuk membangun kesadaran berbareng dalam merealisasikan pola hidup sehat masyarakat Indonesia,” kata Lestari saat membuka obrolan daring bertema Bahaya Penyakit Campak di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya nan digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (8/4).
Diskusi nan dimoderatori Eva Kusuma Sundari tersebut menghadirkan Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, serta Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso sebagai narasumber.
Menurut Lestari, pembangunan pola hidup sehat merupakan bagian dari upaya perlindungan negara terhadap penduduk melalui pemenuhan aspek mendasar, ialah kesehatan. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan terjadinya penurunan kekebalan golongan alias herd immunity di bawah 95 persen nan memicu lonjakan kasus balang secara signifikan.
Penurunan cakupan imunisasi Campak-Rubella (MR), lanjut Lestari, dipengaruhi sejumlah aspek seperti misinformasi dan hoaks antivaksin, gangguan jasa kesehatan selama pandemi COVID-19, serta rendahnya penerimaan masyarakat terhadap imunisasi.
Rerie, sapaan berkawan Lestari, menilai seluruh info tersebut kudu dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan arah kebijakan pencegahan penyakit sekaligus memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional.
“Kesadaran kolektif untuk hidup sehat kudu konsisten dibangun mulai dari lingkup family dalam memperkuat sistem kesehatan nasional,” ujar Rerie nan juga personil Komisi X DPR RI.
Ia juga mendorong para pemangku kepentingan melakukan pembenahan sistem kesehatan secara esensial agar perlindungan kesehatan sebagai kewenangan penduduk negara dapat betul-betul diwujudkan.
Pemerintah Pantau Lonjakan Kasus Campak
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan pemerintah telah mempunyai sistem monitoring kewaspadaan awal terhadap penyebaran penyakit menular, termasuk campak.
Menurut Siti, peningkatan kasus balang dan suspek balang mulai terlihat sejak akhir 2025 dan mencapai puncaknya pada pekan pertama 2026 dengan 2.932 suspek balang dan 2.220 kasus terkonfirmasi secara klinis.
Kasus balang baru menunjukkan tren penurunan pada pekan kedua Maret 2026. Sejumlah provinsi dengan lonjakan kasus tercatat mempunyai cakupan imunisasi balang nan rendah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah melakukan outbreak response immunization berupa pemberian imunisasi tambahan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Selain itu, dilakukan pula pelengkapan imunisasi bagi bayi dan balita.
Kementerian Kesehatan juga menerbitkan Surat Kewaspadaan terhadap Penyakit Campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan nomor HK.02.02/C/1602/2026 sebagai pedoman kewaspadaan di seluruh akomodasi jasa kesehatan.
Vaksinasi Terbukti Tekan Kematian Akibat Campak
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama menjelaskan meningkatnya perhatian terhadap balang terjadi lantaran lonjakan kasus, adanya tenaga medis nan meninggal akibat campak, serta laporan kasus di Australia nan berasal dari pelaku perjalanan dari Jakarta.
Menurut Tjandra, balang bukan penyakit baru dan telah tercatat sebagai salah satu pandemi sejak abad ke-9 SM. Namun dalam 25 tahun terakhir, vaksinasi balang terbukti bisa menyelamatkan sekitar 57 juta jiwa dari kematian.
“Dampak vaksinasi terhadap penurunan penularan kasus balang sangat besar,” tegas Tjandra.
Ia menyarankan peningkatan vaksinasi balang tidak hanya pada anak dan balita, tetapi juga pada golongan dewasa untuk menekan nomor penularan.
DPR Dorong Optimalisasi Program Imunisasi
Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene menilai Indonesia saat ini menghadapi kejadian luar biasa balang di sejumlah wilayah sehingga memerlukan perhatian serius bersama.
Menurut Felly, program imunisasi merupakan program wajib pemerintah pusat nan pelaksanaannya dilakukan pemerintah daerah. Ia menegaskan balang merupakan penyakit nan dapat dicegah melalui imunisasi.
Felly berambisi program imunisasi dan pencegahan nan telah dirancang dapat direalisasikan secara optimal bagi seluruh masyarakat.
Penguatan Layanan Primer dan Edukasi Publik
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menekankan pentingnya penguatan jasa kesehatan primer melalui pendekatan promotif dan preventif, terutama peningkatan cakupan imunisasi.
Menurut Piprim, negara bakal kewalahan menghadapi pandemi andaikan terlalu berfokus pada jasa kuratif sementara jasa primer tetap lemah. Ia menilai keberadaan posyandu menjadi fondasi krusial dalam upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat.
Sementara itu, wartawan senior Usman Kansong menyoroti maraknya disinformasi antivaksin di media sosial, termasuk pernyataan seorang master nan mengampanyekan penolakan vaksin dengan menonjolkan pengaruh samping.
Usman menilai penyebaran info keliru tersebut berpotensi menghalang pengendalian balang nan sebenarnya efektif dicegah melalui vaksinasi. Ia mendorong peningkatan edukasi publik melalui sosialisasi nan betul mengenai pentingnya imunisasi untuk mencegah penyebaran campak.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·