Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi pemberontakan internal. Sejumlah menteri senior dan puluhan personil parlemen Partai Buruh menuntut transisi kekuasaan.(Media Sosial X)
KENDALI kekuasaan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dilaporkan mulai goyah pada Senin (11/5/2026). Gelombang dorongan agar Starmer segera menyusun agenda pengunduran dirinya semakin menguat, baik dari jejeran kabinet maupun dari lebih dari 70 Anggota Parlemen (MP) Partai Buruh.
Tekanan internal ini mencapai puncaknya setelah kekalahan telak partai dalam sejumlah pemilihan umum wilayah baru-baru ini. Dua menteri senior, Menteri Luar Negeri Yvette Cooper dan Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood, dikabarkan telah meminta Starmer secara langsung untuk mengawasi transisi kekuasaan nan tertib guna menghindari kehancuran partai.
Pemberontakan dari Dalam Kabinet
Selain Cooper dan Mahmood, tokoh senior seperti David Lammy dan John Healey juga dikabarkan telah berbincang dengan Starmer mengenai pendekatan nan "bertanggung jawab dan bermartabat" mengenai masa depan kepemimpinan. Meski demikian, beberapa menteri lain seperti Richard Hermer dan Steve Reed tetap setia dan mendesak Starmer untuk terus berjuang.
"Pada akhirnya, Keir telah mendengarkan para menteri kabinet. Ada perbedaan pandangan mengenai arah terbaik bagi partai dan negara. Ia kudu membikin keputusan sebelum rapat kabinet besok," ujar salah satu menteri kabinet.
Gejolak ini diperparah dengan mundurnya empat asisten menteri (PPS) dari beragam departemen, termasuk Departemen Kesehatan dan Kementerian Kehakiman, nan semuanya menyerukan pergantian kepemimpinan.
Respons Keras Keir Starmer
Menanggapi tekanan tersebut, Starmer memberikan pidato nan menantang pada Senin pagi. Ia menegaskan tidak bakal mengundurkan diri dan berkeinginan untuk membuktikan para penentangnya salah.
"Saya bertanggung jawab untuk tidak pergi begitu saja dan tidak menjerumuskan negara kita ke dalam kekacauan, seperti nan dilakukan Partai Konservatif berkali-kali," tegas Starmer. "Pemerintahan Partai Buruh tidak bakal pernah dimaafkan jika membiarkan perihal itu terjadi lagi pada negara kita."
Starmer mengakui adanya rasa frustrasi publik terhadap kondisi Inggris saat ini, namun dia bersikeras bahwa stabilitas negara adalah prioritas utamanya.
Pertarungan Para Suksesor
Di kembali layar, nama-nama potensial pengganti Starmer mulai mencuat. Walikota Greater Manchester, Andy Burnham, dan Menteri Kesehatan Wes Streeting disebut-sebut sebagai kandidat kuat, meskipun pendukung keduanya dituduh oleh sekutu Starmer sebagai pihak nan memicu krisis ini.
Sementara itu, posisi Wakil Perdana Menteri Angela Rayner sebagai calon penerus dilaporkan menurun menyusul masalah pajak pribadinya nan belum tuntas. Rayner sekarang justru tampak memberikan support bagi kembalinya Andy Burnham ke parlemen untuk mengambil peran kepemimpinan.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran dari sejumlah personil parlemen bahwa pergantian pemimpin di tengah tekanan eksternal hanya bakal menguntungkan tokoh populis seperti Nigel Farage. "Mengganti pemimpin hanya lantaran tekanan Nigel Farage bukanlah sesuatu nan bisa kita perbaiki di masa depan," tulis Natasha Irons, personil parlemen dari Croydon East dalam grup koordinasi internal.
Dengan lebih dari 25% personil parlemen dari faksi backbench nan sudah menyatakan mosi tidak percaya, masa depan Keir Starmer sekarang berjuntai pada keputusan nan bakal diambilnya dalam waktu 24 jam ke depan. (The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·