Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan(ANTARA)
KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berbareng Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggelar forum obrolan dan sosialisasi berjudul Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri melalui Penguatan di Perguruan Tinggi di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4).
Forum ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara Kemdiktisaintek dengan KP2MI untuk mewujudkan visi Presiden Prabowo mengirimkan 500 ribu pekerja migran Indonesia dengan high level skill ke beragam negara.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan, mengatakan bahwa saat ini terdapat masalah besar nan perlu kita selesaikan ialah budaya kerja ke luar negeri.
“Ini jadi PR kita bersama. Kita mau membangun kerjasama kuat untuk menciptakan budaya baru, bahwa kerja ke luar negeri tidak kalah terhormat dengan kerja dalam negeri. Kita ada semacam hambatan budaya di Indonesia nan sampai saat ini kita rasakan. Jadi ketika personil family nan keluar dari domisilinya, dianggap bakal mengganggu stabilitas keluarga,” kata Fauzan.
“Di era globalisasi, kita kudu merespons. Jangan hanya sekadar jadi penonton, tapi kita kudu jadi pelaku. Jujur saya iri dengan India. Di mana saja berada itu mereka ada. Nah di Indonesia pekerjaan nan berbasis teknologi kebanyakan orang India. Tentu ini kudu kita maknai bahwa jiwa ekspansif orang India lebih kuat dari orang Indonesia,” sambungnya.
Lebih lanjut, Fauzan menekankan bahwa pihaknya mencoba untuk menjadikan kampus sebagai pusat jasa kerja ke luar negeri. Hal ini menurutnya tentu tidak mudah lantaran dibutuhkan langkah berpikir alias mindset global.
“Ini skema menarik lantaran kita memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bisa berkarier di luar negeri,” ujar Fauzan.
Di tempat nan sama, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto, menambahkan bahwa penempatan pekerja migran saat ini sudah berubah menjadi skill worker.
“Kita mau tempatkan 500 ribu skill worker. Sebenarnya semua sektor itu skill worker baik itu caregiver dan caretaker. Tapi transformasi ini belum menyetuh sektor formal. Kami sudah mengakses lebih dari 100 negara. Job order bisa mencapai 1,5 juta tapi prosesnya panjang. Tapi nan bisa kita tempatkan baru 19 persen,” kata Dwi Setiawan.
Menurutnya, saat ini di seluruh kampus sudah ada Career Development Center (CDC) nan dapat dimanfaatkan untuk melatih calon pekerja migran Indonesia.
“Kita butuh spesifik untuk ke luar negeri lantaran standar kompetensinya berbeda. Jerman berbeda dengan Inggris misalnya. Ini sedang kita petakan dan kami sudah berjumpa beragam stakeholder di beragam negara dan umumnya kepuasan terhadap migran kita luar biasa. Hal nan perlu di-upgrade mungkin mengenai bahasa,” jelasnya.
“Nah ini semua sudah ada di kampus. Inilah pentingnya kerjasama dengan Kemdiktisaintek. Hanya saja kita perlu mulai memetakan lantaran kesempatan kerja tidak selalu sama dengan lulusan. Karena pekerjaan itu kita sebut ‘tukang’. Misalnya tukang las di Indonesia itu berapa penghasilannya, tapi ketika di negara lain sudah berbeda ceritanya. Biasanya mencapai Rp100 juta penghasilannya,” lanjut Dwi Setiawan.
Menurutnya saat ini sudah ada 13 perguruan tinggi nan membentuk migrant center dan 12 lainnya tetap on progress. Alumni nan ada di luar negeri dapat menjadi marketing intelijen agar 2026 Indonesia dapat dilihat sebagai penghasil dari para pekerja terampil. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·