Kemendiktisaintek Ungkap Hanya 6 Persen Universitas Status 'Unggul'

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Mukhamad Najib mengungkapkan hanya enam persen perguruan tinggi di Indonesia nan mempunyai legalisasi "Unggul" alias "A" dari 4.416 nan terdaftar.

"Kalau kita lihat dari sebaran info legalisasi perguruan tinggi dan legalisasi program studi di Indonesia sampai akhir 2025 kemarin itu, untuk perguruan tinggi nan terakreditasi Unggul itu hanya sekitar enam persen," kata Najib dalam aktivitas Forum Diskusi Denpasar 12 nan digelar secara daring di Jakarta, Rabu (6/5), dikutip dari Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga memaparkan bahwa kebanyakan perguruan tinggi hanya mempunyai legalisasi "Baik" alias "C" dengan kisaran jumlah di 67 persen.

Selanjutnya dalam kategori legalisasi program studi, tercatat baru sekitar 22 persen program studi terakreditasi "Unggul" dari total sebanyak 33.741 program studi.

"Bahkan ada program studi nan tidak terakreditasi, nan menurut undang-undang tentu program studi nan tidak terakreditasi itu tidak mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan ijazah," ujarnya.

Berkaca dari perihal ini, Najib menyebut tantangan pendidikan tinggi ini menjadi perihal nan perlu menjadi perhatian bersama. Menurut dia, upaya nan besar diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa, karena pendidikan adalah investasi nan diharapkan bisa berbuah manis di masa depan.

Namun demikian, lanjut dia, di waktu nan sama Indonesia dihadapkan dengan tantangan bingkisan demografi nan kudu dimanfaatkan secara seksama, agar untung ini tidak menjadi bumerang bagi negara di masa nan bakal datang.

"Kita mau investasi itu investasi nan berbuah. Karena itu kualitas pendidikan tinggi kita juga kudu kita perbaiki secara berkelanjutan," ujarnya.

Najib melanjutkan, kejadian tersebut ditambah dengan temuan bahwa lulusan di bagian Sains, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Indonesia nan baru mencapai 18,47 persen. Sedangkan di negara-negara maju, jumlah lulusan STEM-nya berada di atas 30 persen

Menurut dia, perihal ini menyebabkan angkatan kerja nan termasuk ke dalam golongan highly-skilled worker di Indonesia tetap sedikit.

Salah satu solusi untuk mengakselerasi kualitas pendidikan dan memaksimalkan bingkisan demografi, kata Najib, adalah dengan meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri agar talenta dalam negeri tidak sekadar menjadi penonton dalam aktivitas ekonomi negara.

"Kita sering mendengar ya, ketika ada investasi masuk kemudian industri baru terbuka, kemudian masyarakat kita hanya menjadi penonton, lantaran industri baru itu mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Kemudian ada pejabat kita nan mengatakan 'oh lantaran memang sumber daya manusia kita tidak cukup untuk mengisi, tidak cukup mempunyai skill untuk mengisi sektor-sektor tersebut'," ucapnya.

"Nah ini kudu kita jawab bahwa industrialisasi kita itu bisa diisi oleh anak negeri kita, oleh anak bangsa kita dengan kita juga membekali mereka, memperkuat mereka dengan skill nan dibutuhkan untuk memperkuat industrialisasi kita," ujarnya menambahkan.

(fra/antara/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional