Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah RI mulai melayani perjalanan calon jemaah haji Indonesia tahun ini ke Tanah Suci Mekkah di Arab Saudi sejak awal pekan ini.
Dari ratusan ribu calon jemaah haji, salah satu nan menjadi tantangan adalah jemaah--terutama lansia--baik dari kesehatan bentuk maupun psikis.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan berasas laporan nan diterima pihaknya sebanyak 10-15 persen jemaah memerlukan perhatian unik mengenai kesehatan jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara 30-40 persen jemaah mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah nan padat.
Berdasarkan info dari Balai Pengobatan Haji Indonesia, lansia adalah golongan paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa nan dirawat menunjukkan indikasi demensia.
Oleh lantaran itu, Imran mengatakan Kemenkes mengupayakan pendekatan holistik alias mental agar jemaah haji bisa beragama dengan tenang.
"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di kembali makna religius nan mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4), dikutip dari Antara.
"Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan bentuk dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," sambung Imran.
Pendekatan holistik nan dilakukan di antaranya konseling prakeberangkatan nan menyertakan training manajemen stres, pengaturan agenda ibadah dengan waktu rehat nan cukup, serta perhatian pada hidrasi dan nutrisi menjadi strategi utama.
Lalu praktik relaksasi, doa, dan zikir nan terbukti membantu menenangkan pikiran. Selain itu, support sosial dari sesama jamaah menciptakan rasa kebersamaan nan meredakan kecemasan.
Imran pun mengatakan di antara petugas kesehatan haji pun terdapat tim nan menangani persoalan psikologis jemaah secara cepat.
"Petugas kesehatan haji sekarang dilengkapi tim unik untuk menangani masalah psikologis secara sigap agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.
Dengan kesiapan mental nan matang, ekspektasi nan realistis, disiplin mengikuti aturan, serta support family dan komunitas, ibadah haji 2026 diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan.
Faktor-faktor pemicu gangguan mental
Imran memberi contoh sejumlah aspek nan bisa memicu gangguan mental bagi jemaah haji.
Pertama, dia menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata-rata 35-38 derajat Celsius, dengan kelembapan rendah. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi, kelelahan, dan gangguan tidur.
Selain itu, patokan baru dari Pemerintah Arab Saudi nan lebih ketat mengenai visa, akses ke Mekkah, hingga penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah tekanan psikologis. Terutama bagi jemaah nan kurang terbiasa dengan teknologi alias cemas bakal hukuman berat jika melanggar.
Kegiatan bentuk saat melakuakn rukun umrah di Tanah Suci ialah tawaf dan sa'i nan intens juga dapat menimbulkan kelelahan emosional, sementara masa kepulangan menuntut penyesuaian ulang setelah pengalaman spiritual nan intens.
Faktor lainnya, seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan hubungan dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan rasa frustrasi dan isolasi.
"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspetasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah bisa menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani angan nan terlalu tinggi," ujar Imran.
(antara/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·