Ilustrasi(Freepik.com)
SETELAH pemberian izin penggunaan vaksin balang untuk orang dewasa, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bakal memprioritaskan pada golongan berisiko ialah master dan tenaga kesehatan.
Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Dr. Lucia Rizki Andalusia mengatakan pihaknya sudah membikin suatu program perencanaan penyelenggaraan vaksinasi.
Kemenkes mencatat ada 39.212 tenaga medis dan sekitar 2 ribu tenaga kesehatan di 14 provinsi dengan kasus campak tertinggi nan bakal menjadi prioritas utama. Kemudian juga ditambah dengan 28.321 master umum dan master gigi nan sedang intern di seluruh Indonesia.
"Jadi untuk master dan master gigi, master umum dan master gigi nan intensif itu dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia. Sedangkan untuk nakes tadi di 14 provinsi nan kasus campaknya tertinggi," kata Rizka dalam konvensi pers di Jakarta, Rabu (8/4).
Kemenkes mempunyai logistik vaksin nan sudah dan sudah mendistribusikan kepada seluruh dinas kesehatan provinsi.
Ketersediaan Vaksin
Saat ini kesiapan vaksin MR nan digunakan untuk program pemerintah jumlahnya sekitar 9,8 juta dosis di seluruh wilayah alias tingkat ketersediaannya jika diukur adalah sekitar 5,5 bulan.
"Jadi kami memang menjaga agar stok di seluruh wilayah itu tetap terjaga tetapi juga tidak berlebihan sehingga tidak berisiko kelak vaksinnya bakal jadi rusak," ujar dia.
Diketahui Kemenkes punya sistem pemantauan vaksin nan namanya SMILE melalui Satu Sehat logistik memantau kesiapan vaksin di seluruh provinsi, kabupaten, kota sampai ke puskesmas secara real time.
"Jadi saat ini kondisi kesiapan vaksin lebih dari cukup lantaran sudah tersedia sekitar 9,8 juta di seluruh Indonesia," jelsanya.
"Kami kudu berkoordinasi dengan seluruh dinas kesehatan untuk pelaksanaannya. Terutama untuk nakes ini. Jadi tidak diwajibkan untuk dewasa, tetapi untuk golongan berisiko tinggi ini kami bakal lakukan segera," sambungnya.
Diketahui vaksin balang diwajibkan baru pada anak-anak dengan 3 kali pemberian ialah pada usia 9 bulan, 18 bulan dan dibooster pada kelas 1 SD. Tetapi dengan adanya KLB, Kemenkes juga melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) pada daerah-daerah nan tinggi kasusnya alias nan mengalami KLB.
Dengan adanya KLB ini potensi penularan kepada orang berisiko tinggi dalam perihal ini para tenaga kesehatan terutama nan bekerja langsung dengan pasien. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·