Kesaksian Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Saat Ditahan Israel

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang aktivis kemanusiaan internasional nan tergabung dalam misi "Flotilla untuk Gaza" membongkar kekejaman luar biasa dari militer Israel setelah kapal support mereka dicegat secara paksa di perairan internasional.

Mengutip AFP, aktivis berjulukan Julien Cabral tersebut tiba di airport Istanbul dengan kondisi luka memar ungu di mata, luka di pelipis kiri, serta cedera tulang belikat akibat penganiayaan sadis oleh pasukan zionis.

Pria berumur 57 tahun asal Antwerpen, Belgia tersebut berada di dalam kapal mini berbareng enam aktivis lintas negara lainnya dari Italia, Malaysia, Finlandia, Kanada-Palestina, dan Afrika Selatan saat bertolak dari Turki. Sekitar 10 personil pasukan keamanan Israel mencegat mereka di perairan internasional berjarak lebih dari 500 kilometer dari pantai Israel pada Senin (18/05/2026).

Cabral membeberkan bahwa komando marinir Israel sengaja mengacaukan jalur komunikasi terlebih dulu sebelum menyerbu kapal di siang bolong dengan senjata lengkap. Otoritas Turki sendiri langsung mengerahkan tim master serta ambulans dan mengevakuasi 422 orang menggunakan penerbangan khusus, termasuk 85 penduduk negaranya sendiri.

"Mereka pertama-tama mengacaukan komunikasi kemudian naik di siang bolong dengan senjata dan menembakkan peluru plastik hanya untuk bersenang-senang," kata Cabral.

Cabral menambahkan bahwa rombongannya sangat terkejut lantaran kapal mereka langsung dikepung oleh kapal-kapal korvet militer Israel. Menurutnya, pasukan zionis bergerak dengan tingkat kekerasan nan sangat tinggi meskipun seluruh aktivis di atas kapal sudah mengangkat tangan ke udara tanda menyerah tanpa perlawanan.

Kekerasan bentuk pun langsung menyasar para ketua kapal sesaat setelah pasukan komando marinir Israel sukses mengambil alih kemudi. Cabral nan bertindak sebagai wakil kapten menjadi salah satu korban pertama nan dihantam secara fisik.

"Saya adalah orang kedua nan memimpin di kapal. Kapten kami, seorang penduduk Italia, tetap berdiri dan mereka langsung mengincarnya. Saya terkena pukulan di pelipis kiri," ujar Cabral.

Cabral menceritakan bahwa setelah pemukulan tersebut, para sandera dipindahkan secara kasar dengan tangan terikat tali plastik menuju kapal penjara nan berisi kontainer-kontainer sempit. Di dalam kapal tersebut, penderitaan para relawan kemanusiaan justru semakin menjadi-jadi lantaran hinaan dari para tentara.

"Lalu mereka memindahkan kami, tetap dengan menggunakan kekerasan, tangan kami diikat dengan tali plastik ke kapal penjara ini, ke dalam kontainer. Saya mendengar mereka berbicara dalam bahasa Inggris, 'mari kita bersenang-senang'," kata Cabral.

Selama penahanan di atas kapal penjara, para tawanan ditelantarkan tanpa akses medis nan layak meskipun banyak nan mengalami luka parah akibat serbuan awal. Pasukan Israel apalagi dengan sengaja menyita obat-obatan darurat milik salah seorang relawan nan menderita penyakit kronis seperti epilepsi.

"Para tahanan meminta untuk menemui master selama tiga hari tetapi selalu diberitahu 'nanti, nanti'. Mereka menyita obat-obatan seseorang nan menderita epilepsi. Di atas kapal 'Sirius', tujuh orang mengalami 35 patah tulang di antara mereka," tutur Cabral.

Kondisi logistik di dalam ruang tahanan kontainer tersebut juga sangat memprihatinkan dan jauh dari kata manusiawi. Para tentara hanya melemparkan pasokan makanan seadanya dari dek atas tanpa memedulikan kebutuhan dasar para sandera.

"Di atas kapal, para prajurit melemparkan kotak-kotak berisi roti dan air dari dek atas 'tetapi dalam jumlah nan tidak mencukupi'. Pasti ada 200 orang dari kami... Kami meminta lebih banyak air, kertas toilet, pembalut untuk para wanita. Kami kudu meminta segalanya," ucap Cabral.

Puncak penyiksaan bersambung ketika para tahanan diturunkan dari kapal pada hari Rabu untuk dipindahkan ke akomodasi penahanan darurat di wilayah Ashdod, Israel selatan. Mereka dipaksa masuk ke dalam mobil van penjara nan sangat sempit dengan posisi tubuh nan menyakitkan.

"Borgolnya 'jauh terlalu ketat' dan para tahanan dibungkukkan selama berjam-jam. Kami tidak bisa memandang apa-apa. Mereka menekan leher kami," kata Cabral.

Cabral menambahkan bahwa selama perjalanan, para tentara Israel terus-menerus menampar, menghina, serta menertawakan para aktivis sembari menyanyikan lagu kebangsaan Israel. Pasukan zionis dilaporkan bertindak jauh lebih sadis dan keras terhadap para relawan nan berasal dari Yordania dan Tunisia, sebelum akhirnya dipindahkan ke airport Ramon dekat Eilat pada Kamis pagi.

Meski telah mengalami trauma bentuk dan psikologis nan hebat, Cabral nan berambisi bisa segera pulang ke Belgia menegaskan bahwa kejadian ini tidak bakal menyurutkan niatnya. Ia berkeinginan penuh untuk kembali berlayar dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza berikutnya.

"Tentu saja. Kita bakal terus melanjutkan," cetus Cabral.

Kesaksian serupa mengenaibrutalnya perlakuan militer Israel juga diutarakan oleh BilalKitay, seorang aktivis berkewarganegaraan Turki asal Bingol nan ikut dievakuasi berbareng istrinya. Kitay menegaskan bahwa tindakan pencegatan oleh pasukan Israel kali ini jauh lebih sadis dibandingkan dengan pelayaran pertamanya pada bulan April lalu.

"Mereka menyerang kami. Masing-masing dari kami dipukuli, wanita dan pria... Ini adalah apa nan dialami penduduk Palestina sepanjang waktu," kata Kitay.

Kitay pun melontarkan kecaman nan sangat menohok atas hilangnya rasa kemanusiaan dari para tentara Israel nan menahan mereka. Menurutnya, tindakan para prajurit zionis tersebut sudah betul-betul berada di luar pemisah kelaziman makhluk hidup.

"Sayangnya, mereka memperlakukan hewan mereka dengan lebih baik. Mereka sendiri nan menganggap diri mereka manusia," tutup Kitay.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News