Ketegangan belum Usai, AS Pertahankan Kekuatan Militer di Sekitar Iran

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ketegangan belum Usai, AS Pertahankan Kekuatan Militer di Sekitar Iran Ilustrasi(Antara/Xinhua )

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menegaskan bahwa kekuatan militer negaranya tetap dalam kondisi siaga di sekitar Iran, meskipun kedua pihak telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis (9/4), Trump menyatakan bahwa kesiapan tersebut merupakan langkah antisipatif jika kesepakatan tidak melangkah sesuai rencana. 

"Semua Kapal, Pesawat, dan Personel Militer AS, beserta Amunisi, Persenjataan, dan segala sesuatu nan sesuai dan diperlukan untuk penuntutan dan penghancuran mematikan terhadap Musuh nan sudah sangat melemah, bakal tetap berada di dan sekitar Iran, sampai Kesepakatan sebenarnya nan telah disepakati dipatuhi sepenuhnya," tulisnya dilansir CNN, Kamis (9/4)

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil langkah lebih besar jika gencatan senjata gagal. 

"Jika lantaran argumen apa pun perihal itu tidak terjadi, nan sangat tidak mungkin, maka penembakan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari nan pernah dilihat siapa pun sebelumnya," lanjut Trump.

Trump menegaskan bahwa sikap tersebut telah direncanakan sejak awal, terlepas dari beragam narasi nan berkembang. 

Ia kembali menekankan tujuan utama Washington, ialah menghentikan program nuklir Iran serta memastikan jalur perdagangan daya dunia tetap terbuka, khususnya di Selat Hormuz. 

"Tidak ada senjata nuklir dan selat Hormuz bakal terbuka dan aman," tegasnya.

Dalam pernyataan nan sama, Trump juga menyebut bahwa militer AS saat ini berada dalam fase siaga sembari menunggu perkembangan situasi lebih lanjut. 

"Amerika bakal kembali," tulisnya menutup pernyataan.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata pada Selasa (7/4) setelah lebih dari satu bulan konflik. Pembahasan lanjutan mengenai kesepakatan jangka panjang dijadwalkan berjalan di Islamabad, Pakistan, pada 10 April.

Pakistan sebagai mediator menyebut bahwa gencatan senjata turut mencakup sekutu kedua pihak, termasuk Lebanon, meski tidak secara rinci menyebut posisi Israel dalam kesepakatan tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan support terhadap keputusan Trump, namun menolak dugaan bahwa Libanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata.

Kurang dari 24 jam setelah pengumuman kesepakatan, Israel melancarkan serangan besar ke Libanon nan menewaskan sedikitnya 245 orang dan melukai ribuan lainnya.

Menanggapi perihal tersebut, Iran menyatakan kemarahannya dan menilai Amerika Serikat telah melanggar tiga poin krusial dalam kesepakatan, ialah serangan ke Libanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan Washington terhadap kewenangan Teheran untuk melakukan pengayaan uranium. (Fer/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia