
Kisah BJ Habibie Bikin Rupiah Kuat dari Rp17.000 Jadi Rp6.500 per Dolar AS (Foto: Istimewa)
JAKARTA - Kisah Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie nan membikin nilai tukar Rupiah kembali menguat dari level Rp17.000 menjadi Rp6.500 per dolar AS.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pernah mencapai titik terendahnya pada 1998. Kala itu krisis moneter terjadi nan membikin nilai tukar Rupiah ambruk dari Rp2.500 menjadi di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000-an per dolar AS.
Namun, pada 2026 sekarang Rupiah kembali melemah ke level terendah sepanjang sejarah mencapai Rp17.600 per dolar AS. Meski Rupiah melemah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fondasi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis 1998.
"Kita enggak bakal sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak bakal jelek malah. Dengan fondasi ekonomi nan kuat enggak terlalu susah sebetulnya," kata Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Kisah Habibie Bikin Rupiah Menguat
Pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini mengingatkan kembali saat krisis moneter 1998. Rupiah memang sempat ambruk ke level Rp17.000, namun berkah tangan dingin BJ Habibie sukses membikin Rupiah kembali kuat ke level Rp6.500 per dolar AS dalam waktu relatif singkat.
Habibie mengibaratkan pelemahan Rupiah pada krisis moneter 1998 dengan kondisi pesawat nan terbang dalam keadaan stall (kehilangan daya angkat) dan berpotensi jatuh.
Habibie saat itu mengatakan bahwa pemerintah tengah berupaya keluar dari krisis tersebut. Dirinya juga optimistis Indonesia bisa bangkit dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Habibie memperkirakan waktu nan dibutuhkan Indonesia untuk memulihkan kondisi ekonomi saat itu.
“Saya pikir ini bakal menyantap waktu dua hingga tiga tahun hingga kita kembali lagi dalam kecepatan penuh. Tapi perihal nan paling krusial adalah kita kudu keluar dalam minggu-minggu selanjutnya alias bulan-bulan selanjutnya. Dari nan kalian sebut minimum, kita hanya kembali sekarang,” kata Habibe dalam video lawas nan beredar di media sosial.
Pada masa krisis, pemerintah di bawah Habibie mengambil langkah restrukturisasi besar-besaran di sektor perbankan.
Salah satu kebijakan utama adalah penggabungan empat bank milik negara menjadi Bank Mandiri, nan bermaksud memperkuat struktur perbankan nasional.
Tidak hanya itu, Habibie juga melakukan reformasi kelembagaan dilakukan dengan memberikan independensi kepada Bank Indonesia (BI).
Hal ini melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999. Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dari intervensi politik.
Pemerintahan Habibie kala itu juga menjaga daya beli masyarakat melalui stabilisasi nilai kebutuhan pokok, termasuk pemberian subsidi listrik dan bahan bakar. Kebijakan tersebut membantu meredam tekanan inflasi nan melonjak selama krisis.
Stabilitas makroekonomi nan mulai pulih menjadi aspek kunci penguatan nilai tukar Rupiah dalam periode tersebut.
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·