Kisah inspiratif Teuku Feroz Taufan mendirikan Ekadanta untuk membantu siswa Aceh tembus PTN top, berbekal danasiwa Tanoto Foundation.(Dok. Tanoto Foundation)
BAGI sebagian besar siswa SMA di Pulau Jawa, mendengar nama Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), alias Universitas Gadjah Mada (UGM) mungkin sudah menjadi perihal nan lumrah sejak kecil.
Namun, realita nan sangat berbeda kudu dihadapi oleh anak-anak muda di ujung barat Indonesia, Provinsi Aceh. Selama bertahun-tahun, jumlah mahasiswa asal wilayah ini nan sukses menembus perguruan tinggi negeri (PTN) papan atas nasional tergolong sangat minim.
Ketimpangan ini terekam jelas dalam ingatan Teuku Feroz Taufan. Pada tahun 2015 ketika dia masuk ITB, hanya ada 19 siswa dari seluruh Provinsi Aceh nan sukses lolos melalui jalur tes tulis.
Angka tersebut justru terus merosot hingga menyisakan empat orang saja pada saat dia lulus di tahun 2019. Aceh apalagi sempat menjadi sorotan lantaran mencatatkan nilai ujian kompetensi nan terendah di Sumatra.
Ironisnya, perihal ini terjadi di tengah guyuran biaya Otonomi Khusus (Otsus) triliunan rupiah nan salah satu peruntukan besarnya adalah untuk sektor pendidikan. Banyak siswa di wilayah nan sebenarnya mempunyai potensi, namun kalah saing lantaran tidak terbiasa dengan strategi dan pola ujian masuk PTN.
“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010an itu terendah di Sumatra. Jadi, itu memang cukup memprihatinkan. Jadi, saya merasa ini nih nan perlu dibantu dulu agar lebih banyak anak-anak Aceh nan diterima di kampus negeri papan atas nasional,” ujar dia membuka percakapan.
Lahirnya Ekadanta: Gotong Royong Alumni untuk Pendidikan Aceh
Melihat kondisi nan memprihatinkan tersebut, Feroz tidak tinggal diam. Berangkat dari latar belakang family nan menjunjung tinggi nilai pendidikan dan pengalamannya mencicipi danasiwa sejak SMA, dia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu.
Pada akhir tahun 2019, berbareng beberapa rekan sesama alumni ITB, dia menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center, sebuah lembaga pendidikan nan dirancang unik untuk menjadi jembatan bagi siswa SMA di Aceh agar bisa menembus PTN favorit.
“Saat itu kami konsentrasi dulu ke Banda Aceh dan inilah nan realistis, ialah mendorong anak-anak SMA alias SMK tembus kampus top,” jelasnya.
Feroz memilih Banda Aceh sebagai focus program lantaran anak-anak dari beragam desa di Aceh rata-rata pergi ke kota tersebut untuk menempuh pendidikan nan lebih baik
Perjalanan merintis Ekadanta tentu tidak mudah. Feroz kudu melakukan brainstorming, menyusun data, hingga mengetuk pintu rumah para alumni senior asal Aceh di Jakarta untuk menggalang biaya awal.
Pada angkatan pertama, program ini melangkah 100% cuma-cuma untuk 40 siswa terbaik di Banda Aceh nan disaring ketat melalui jalur tes. Hasilnya pun luar biasa; tingkat siswa asal Aceh nan sukses masuk ITB melonjak hingga 300% pada tahun tersebut.
Kini, Ekadanta telah memasuki tahun ketujuh dan melangkah secara mandiri. Melalui peta jalan (roadmap) nan matang, Feroz menerapkan sistem subsidi silang dan diversifikasi pendapatan, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk melatih para pembimbing agar akibat nan dihasilkan bisa lebih masif dan berkelanjutan.
Geluti Dunia Profesional sebagai Konsultan
Di luar dedikasinya nan tinggi untuk tanah kelahirannya, Feroz adalah seorang ahli muda nan mempunyai pekerjaan cemerlang. Lulus dari Teknik Mesin ITB pada Juli 2019, dia langsung direkrut melalui jalur talent pool kampus sebelum proses wisuda resminya.
Ia memulai kariernya selama empat tahun di EQUITEK, sebuah perusahaan Konsultan Manajemen dan Teknologi, dengan menangani beragam proyek transformasi untuk BUMN-BUMN besar seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, hingga RSCM.
Kariernya kian melesat saat memutuskan pindah ke Altha Consulting pada Oktober 2023. Di perusahaan keduanya ini, dia konsentrasi pada strategi, transformasi proses bisnis, dan teknologi untuk sektor logistik BUMN.
Berkat kompetensinya, Feroz sukses mendapatkan promosi ganda, dari posisi Manajer di tahun 2023 menjadi Senior Manager pada September 2025.
Di tengah padatanya agenda pekerjaan utamanya, termasuk rutinitas berjalan dari Jakarta ke beragam kota setiap minggu, posisi manajerial ini justru memberinya ruang dan elastisitas untuk tetap mengontrol operasional Ekadanta di luar jam kerja.
Buah Manis Tempaan Beasiswa Tanoto
Keberhasilan Feroz dalam menyeimbangkan pekerjaan ahli dan tindakan sosialnya diakui tidak lepas dari peran besar Tanoto Foundation. Saat tetap berkuliah di tingkat satu, dia sukses terpilih sebagai penerima danasiwa prestasi nan kala itu berjulukan National Championship Scholarship (NCS).
Bagi Feroz, Tanoto Foundation memberikan sesuatu nan jauh lebih berbobot daripada sekadar support finansial, ialah kurikulum pengembangan diri (Self Development) yang sistematis dan terstruktur.
Selama menjadi penerima beasiswa, Feroz ditempa melalui beragam program sosial seperti mengajar di panti asuhan, hingga training kepemimpinan intensif.
Di sanalah dia mengasah soft skill krusial nan digunakannya hingga hari ini: keahlian melakukan presentasi, bernegosiasi, dan langkah memengaruhi orang lain (how to influence people).
Ilmu-ilmu manajemen program dan komunikasi nan dia dapatkan dari Tanoto Foundation-lah nan menjadi pondasi kokoh baginya saat kudu meyakinkan dinas pendidikan, kepala sekolah, hingga para dermawan alumni demi memajukan Ekadanta.
“Kemampuan seperti ini tidak saya lihat pada program danasiwa lain, nan mungkin lebih berfokus pada pemberian uangnya saja. Di Tanoto Foundation ini, programnya dibuat secara sistematis,” jelas dia.
Harapan untuk Para Pemuda Aceh
Sebagai anak muda Aceh nan pernah merasakan langsung tantangan menembus perguruan tinggi terbaik nasional, Teuku Feroz menyimpan angan besar agar semakin banyak generasi muda dari wilayah dapat mempunyai kesempatan dan kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat nasional.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata soal keahlian akademik, melainkan keterbatasan akses terhadap informasi, pendampingan, serta lingkungan belajar nan bisa mendorong siswa berkembang secara maksimal. Banyak pelajar di Aceh sebenarnya mempunyai potensi besar, namun belum mendapatkan pengarahan dan strategi nan tepat untuk menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi favorit.
Karena itu, Feroz menilai pembangunan pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada siswa semata, tetapi juga perlu memperkuat kualitas guru, budaya belajar, serta keterlibatan para alumni untuk ikut berkontribusi membantu generasi berikutnya.
Melalui Ekadanta, dia berambisi semakin banyak anak muda Aceh nan berani mempunyai mimpi besar dan memandang bahwa menembus kampus-kampus terbaik di Indonesia bukan sesuatu nan mustahil. Baginya, keberhasilan satu anak dari wilayah dapat membuka jalan dan kepercayaan diri bagi banyak siswa lainnya.
Feroz juga berambisi semakin banyak lulusan perguruan tinggi nan nantinya kembali membawa ilmu, pengalaman, dan jejaring nan mereka miliki untuk membangun Aceh dari beragam bidang.
“Kalau semakin banyak anak Aceh nan bisa masuk kampus-kampus terbaik, lampau kembali membangun daerahnya, dampaknya bakal sangat besar untuk masa depan Aceh,” pungkas Feroz. (RO/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·