Konsumen Protes Kenaikan Harga, Pedagang Gunakan Plastik di Cirebon Pilih Turunkan Keuntungan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Konsumen Protes Kenaikan Harga, Pedagang Gunakan Plastik di Cirebon Pilih Turunkan Keuntungan Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEDAGANG minuman naikkan nilai seiring melonjaknya harga plastik. Namun kenaikan nilai diprotes oleh pelanggan. 

“Saya coba naikin nilai seribu, pengguna protes,” tutur Aeni, 60, seorang pedagang minuman dingin di area Pasar Pagi, Kota Cirebon, Kamis (9/4). Seperti es kopi nan menggunakan plastik dan sedotan dijual Rp 6 ribu dari sebelumnya Rp5  ribu. Tapi pelanggannya, lanjut Aeni, banyak protes hingga akhirnya kenaikan nilai hanya bertindak sehari. “Besoknya saya turunin lagi, kembali ke nilai semula,” tutur Aeni. 

Aeni mengaku risih sekaligus iba dengan pelanggannya nan kebanyakan pekerja dan penjual mini di pasar tersebut. “Ya sudah, kembali ke nilai semula. Mengurangi untung memang lantaran plastik, gelas plastik, sedotan dan lainnya semua harganya naik,” tutur Aeni. 

Kini, Aeni mengaku omsetnya berkurang seiring dengan kenaikan harga plastik dan batalnya kenaikan harga. Sebelumnya Aeni mengaku bisa mendapatkan omset antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu dalam sehari, namun sekarang bisa mendapat omset Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu saja Aeni mengaku sudah sangat bersyukur. “Sebenarnya kenaikan nilai plastik sudah terjadi sejak sebelum puasa. Tapi beberapa minggu ini terus naik. Jadi ya tinggi,” tutur Aeni. Aeni mencontohkan salah satu plastik nan biasanya dibeli hanya Rp 8 ribu per bungkus, sekarang naik menjadi Rp 17 ribu. 

Hal nan sama diungkapkan seorang pedagang baso tahu alias siomay di salah satu kampus swasta di Kabupaten Cirebon. “Harga plastik naiknya gila-gilaan. Lebih dari lima puluh persen,” tutur Maman, 34. Namun lantaran konsumennya kebanyakan mahasiswa, Maman pun mengaku tidak berani meningkatkan nilai jualannya. 

Maman mengaku sangat mengerti jika duit jajan mahasiswa tidaklah besar. “Jadi ya kaya biasa aja. Ukurannyaa tetap, nilai juga ga naik. Kasihan mahasiswanya,” tutur Maman. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia