Krisis Iklim Percepat Siklus El Nino, Indonesia Terancam Kekeringan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Krisis Iklim Percepat Siklus El Nino, Indonesia Terancam Kekeringan Grafis El Nino(AFP)

WILAYAH Indonesia kembali dihadapkan pada potensi kekeringan ekstrem dan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan dipicu kejadian El Nino. Jika sebelumnya El Nino kuat terjadi dengan pola empat tahunan, tren terbaru menunjukkan siklus nan semakin pendek, memperbesar akibat krisis iklim di dalam negeri.

Sejak 2015 nan merupakan tahun El Nino sangat kuat, pola empat tahunan terlihat dengan kejadian serupa pada 2019 dan 2023 nan memicu kekeringan ekstrem serta karhutla masif. Berdasarkan pola tersebut, El Nino berikutnya diperkirakan baru bakal terjadi pada 2027. Namun kenyataannya, kejadian ini kembali muncul hanya dalam rentang tiga tahun.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa akibat krisis suasana turut memengaruhi perubahan siklus El Nino, nan berpotensi mempercepat datangnya musim kering ekstrem di Indonesia. Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik menegaskan bahwa kejadian ini kudu diantisipasi secara serius.

"Siklus El Nino nan semakin pendek kudu dimitigasi dengan serius lantaran bakal memicu kekeringan dan karhutla nan lebih sering dan luas," kata Kiki, Rabu (8/4).

Ia menambahkan, meskipun El Nino mempunyai tingkatan dari lemah hingga sangat kuat, seluruh level tetap memberikan akibat signifikan bagi Indonesia.

Pada periode El Nino, nyaris seluruh wilayah Indonesia terdampak kekeringan ekstrem dan berkepanjangan. Hal ini tercermin pada peristiwa 2015, 2019, dan 2023. Salah satu akibat paling signifikan adalah meningkatnya kebakaran di lanskap gambut di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Karhutla di lahan gambut mempunyai karakter khas, ialah penyebaran luas, lama panjang, serta menghasilkan kabut asap tebal nan dapat menjangkau wilayah nan sangat luas. Wilayah pesisir timur Sumatra dari Riau hingga Sumatra Selatan, pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Papua Selatan menjadi wilayah nan sangat rawan terdampak.

Menurut Kiki, upaya pencegahan jangka panjang kudu segera diperkuat, terutama melalui restorasi gambut nan rusak dan kering. "Restorasi gambut nan dilakukan secara masif dan betul sangat krusial untuk meminimalisir karhutla gambut nan terus berulang," ujarnya.

Selain itu, rehabilitasi wilayah aliran sungai (DAS) dan rimba alam juga dinilai krusial untuk menjaga persediaan air selama musim kemarau. "Memperbaiki DAS dan merehabilitasi rimba alam juga merupakan langkah krusial untuk menjaga kesiapan air di tengah ancaman kekeringan," tambahnya.

Meski upaya pencegahan telah diidentifikasi sejak karhutla besar 2015, implementasinya dinilai tetap jauh dari optimal. Dengan potensi El Nino nan datang lebih cepat, penguatan mitigasi dan pengelolaan ekosistem menjadi kunci untuk mengurangi akibat musibah di masa mendatang. (Fik/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia