Warga AS.(Al Jazeera)
ANTREAN panjang di depan instansi Departemen Keamanan Ekonomi Arizona di Surprise, pinggiran Phoenix, sekarang menjadi pemandangan rutin sejak pukul 07.00 waktu setempat. Di antara kerumunan itu, Tiffany Hudson berdiri berbareng putranya nan berumur 7 tahun, menunggu jawaban argumen support pangan (SNAP) untuk keluarganya dihentikan secara tiba-tiba.
Keluarga Hudson adalah satu dari jutaan family di Amerika Serikat nan terdampak oleh gelombang pembatasan baru dan halangan birokrasi akibat undang-undang federal nan baru diimplementasikan. Kebijakan ini memangkas anggaran sebesar US$187 miliar dari Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) alias nan dikenal sebagai food stamps selama satu dasawarsa ke depan.
Arizona: Titik Terparah Krisis Pangan
Arizona menjadi negara bagian dengan penurunan jumlah penerima support paling drastis di AS. Data menunjukkan jumlah penerima food stamps di negara bagian ini merosot hingga 50% pada Maret dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 200.000 anak-anak di Arizona dilaporkan kehilangan akses terhadap support nutrisi tersebut.
Penurunan ini dipicu oleh beberapa aspek utama:
- Persyaratan Kerja nan Diperluas: Orang dewasa berbadan sehat di bawah usia 65 tahun wajib bekerja minimal 80 jam per bulan.
- Beban Dokumentasi: Pemohon diwajibkan menyerahkan bukti arsip nan jauh lebih rumit untuk memverifikasi pendapatan dan pengeluaran.
- Sistem Peninjauan Ketat: Upaya negara bagian untuk menghindari denda federal akibat kesalahan pembayaran (error rate) justru menciptakan halangan bagi penduduk nan sebenarnya memenuhi syarat.
Dampak Nyata: Di St. Mary’s Food Bank, permintaan support pangan melonjak hingga 25% di beberapa wilayah perdesaan lantaran penduduk nan kehilangan SNAP beranjak ke bank makanan swasta untuk memperkuat hidup.
Hambatan Birokrasi dan Kesalahan Sistem
Banyak warga, termasuk penyandang disabilitas dan orangtua tunggal, melaporkan bahwa support mereka dihentikan tanpa peringatan. Tiffany Hudson, nan bekerja 50 jam sebulan sembari merawat anak autis, semestinya dikecualikan dari patokan kerja baru. Namun, dia terjebak dalam proses manajemen selama berbulan-bulan.
Kondisi ini diperparah dengan pengurangan staf di lembaga pemerintah. Monika Spencer, mantan petugas pemroses aplikasi SNAP nan sekarang justru kudu mengantre support setelah di-PHK, menyebut bahwa sistem nan ada saat ini sangat membebani pekerja dan pemohon.
"Kami sudah kekurangan staf sejak awal. Sekarang, tuntutan pengarsipan tambahan membikin proses satu aplikasi bisa menyantap waktu hingga dua jam," ujar Spencer.
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Para mahir medis mulai mengkhawatirkan akibat kesehatan dari krisis ini. Bill Ellert, Chief Medical Officer untuk Circle the City, memprediksi lonjakan komplikasi penyakit kronis seperti tekanan hipertensi dan penyakit ginjal lantaran penduduk tidak lagi bisa membeli makanan sehat.
"Kebijakan ini dilakukan untuk menghemat uang, tetapi dalam jangka panjang bakal menyantap biaya lebih besar lantaran meningkatnya biaya perawatan rumah sakit akibat malnutrisi dan penyakit nan sebenarnya bisa dicegah," tegas Ellert.
Saat ini, negara bagian lain seperti Georgia, Virginia, dan Tennessee juga mulai melaporkan penurunan signifikan dalam pendaftaran SNAP, menandakan bahwa krisis pangan nan terjadi di Arizona mungkin segera meluas ke seluruh penjuru Amerika Serikat. (NBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·