Jakarta -
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dari tindak pidana di sektor jasa keuangan. Salah satu nan paling banyak menyantap korban adalah penipuan namalain scam dengan beragam modus.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi, melaporkan per 22 November 2024 hingga 30 April 2026 pihaknya berbareng Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 549.074 laporan penipuan.
"Ada nan bisa tebak nggak kira-kira jumlah kehilangan nan dilaporkan masyarakat Indonesia mengenai scam dalam satu tahun terakhir? nan sudah dilaporkan lenyap itu Rp 9,5 triliun, banyak ya," kata Friderica dalam aktivitas Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konteks ini, dia mengatakan terdapat lima modus scam nan banyak dilaporkan masyarakat. Secara berurutan penipuan mengenai transaksi belanja, impersonation alias fake call, penipuan investasi, modus penipuan kerja, serta penipuan melalui media sosial.
"Kena scam jual beli online, ini penipuan transaksi shopping online. Laporannya masuk ke OJK, 76.724 orang nan kena scam penipuan online," papar Frederica.
Selanjutnya modus scam nan paling banyak digunakan lainnya adalah penipuan impersonation alias fake call sebanyak 44.889 laporan, kemudian penipuan investasi sebanyak 26.613 laporan, lampau ada modus penipuan kerja sebanyak 23.906 laporan, dan penipuan melalui media sosial menempati posisi kelima dengan total kejuaraan sebanyak 20.394 laporan.
"Paling banyak kena ke anak muda, salah satunya adalah penipuan kerja. Siapa nan pernah kena online scam penipuan kerja? nan seolah, nan ngeklik-ngeklik dapat duit masuk, tiba-tiba kita disuruh transfer, lantaran bakal ikut membership nan lebih besar, akhirnya duit kita hilang," ucapnya.
Secara Khusus mengenai modus penipuan di media sosial, Friderica menyatakan saat ini love scam alias modus penipuan berkedok asmara menjadi nan paling berkembang di Indonesia.
"Ada nan pernah kena love scam? Pura-pura punya pacar di online, padahal orangnya nggak ada. Ada nggak? Itu mulai banyak sekarang ya, hati-hati," ujarnya.
"Sepertinya punya hubungan, nan dikirim gambarnya laki-laki keren, wanita cantik, padahal itu semua editan AI. Kemudian kita merasa punya hubungan, dan kemudian dengan suka rela kita men-transfer. Itu hati-hati dan mulai banyak penipuan di media sosial," jelas Frederica lagi mengenai modus love scam.
Pada akhirnya, Frederica betul-betul hanya bisa mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati agar tidak terjebak dalam tindak pidana penipuan dengan beragam modus tadi.
"Kalau dulu orang mau merampok kita kudu datangin kita, kudu mungkin nyopet, alias mungkin melakukan tindak kekerasan dan lain-lain. Sekarang nggak usah, kalian sendiri nan bakal dengan suka rela mengirimkan duit alias memberikan password-mu, memberikan OTP-mu kepada orang nan kalian tidak kenal. Itulah kejadian di bumi digital nan kalian kudu hati-hati," imbaunya.
(igo/fdl)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·