Lulusan Membeludak, Kemendiktisaintek Bakal Tutup Prodi Tak Relevan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kemdiktisaintek berencana mengkaji ulang untuk menyesuaikan prodi dengan kebutuhan industri.

Hal itu didasari tingginya nomor lulusan dari prodi nan tidak terserap di bumi kerja.

Sekjen Kemendiktisaintek Badri Munir Sukonco mengatakan pemerintah bakal melakukan penyesuaian ulang mengenai prodi di universitas agar kelulusan terserap maksimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, prodi nan tidak relevan terbuka kemungkinan bakal ditutup.

"Ada kerelaan alias mungkin ada beberapa perihal nan kelak bakal kita eksekusi tidak terlalu lama mengenai prodi, prodi bakal kita pilih pilah alias jika perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi ini dan sebenernya nan dibutuhkan prodi apa ke depan, itu nan bakal kita susun bersama," kata Badri dikutip dari siaran ulang YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Senin (27/4).

Pihak Kemdiktisaintek juga mengharapkan support dari konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).

"Jadi ini menurut kami di kementerian perlu kebijakan bersama. Kami berambisi juga support teman-teman dari PTPK, tentunya bapak rektor nan ada di sini semuanya, (supaya) ada kerelaan," ujar Badri.

Oversupply Lulusan Prodi Tertentu

Badri menyebut salah satu prodi nan dinilai oversupply alias kelebihan pasokan lulusan, ialah kependidikan.

Ia menyebut dalam statistik pendidikan tinggi, prodi pengetahuan sosial kurang lebih ada 60% dan porsi nan paling besar merupakan prodi kependidikan/keguruan.

"Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu," kata Badri.

"Sementara, kebutuhan untuk lulusan keguruan hanya 20 ribu," imbuhnya.

Ia juga menyinggung saat ini perguruan tinggi di Indonesia menggunakan pendekatan market driven strategy dalam membuka prodi. Maksudnya, bagian prodi nan laris, bakal dibuka prodinya.

"Saya bisa ngecek juga itu misalnya tahun 2028, sebenarnya kita sudah oversupply master jika misalnya ini dibiarkan. Oversupply master itu jika misalnya kita pakai standar minimal World Bank. Apalagi terjadi maldistribusi, ketidakseimbangan pengedaran di beragam daerah," terang Badri.

"Memang saat ini bingkisan demografi digaungkan di mana-mana, tapi jika pendidikan tinggi nan diharapkan bisa mengantar untuk kita menjadi negara maju itu tidak kita sesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, tentunya bakal tidak match," tegasnya.

[Gambas:Youtube]

Baca selengkapnya di sini.

(tim/isn)

Add as a preferred
source on Google
Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional