Mangrove Langka di Teluk Balikpapan Terancam Punah, Habitat Bekantan Ikut Terganggu

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Mangrove Langka di Teluk Balikpapan Terancam Punah, Habitat Bekantan Ikut Terganggu Sejumlah bekantan (Nasalis larvatus).(Dok. Antara)

KEBERADAAN jenis mangrove langka, Camptostemon philippinensis, di area Teluk Balikpapan sekarang berada dalam kondisi kritis. Spesies nan masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan kategori terancam punah ini menghadapi tekanan berat akibat aktivitas manusia dan pembangunan prasarana di sekitar area tersebut.

Di Indonesia, tumbuhan ini merupakan jenis mangrove nan dilindungi pemerintah lantaran populasinya nan sangat terbatas, hanya tersebar di titik-titik tertentu di Kalimantan dan Sulawesi. Di Teluk Balikpapan, populasi ini ditemukan di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Temuan Populasi dan Kemampuan Regenerasi

Berdasarkan hasil kajian konteks saat ini tim peneliti di sepanjang 200 kilometer area mangrove Teluk Balikpapan, ditemukan sekitar 527 perseorangan C. philippinensis di area Pantai Lango. Data penelitian menunjukkan struktur populasi nan terdiri dari:

  • 452 perseorangan semaian (anakan muda)
  • 26 perseorangan pancang
  • 49 pohon dewasa

Meskipun jumlahnya terbatas pada kediaman nan sempit, kekuasaan anakan muda menunjukkan bahwa jenis ini sebenarnya mempunyai keahlian regenerasi alami nan cukup baik jika habitatnya tetap terjaga.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Istiana Prihatini, mengungkapkan bahwa keberadaan jenis ini menjadi parameter pentingnya nilai biodiversitas Teluk Balikpapan. Namun, dia memperingatkan adanya ancaman serius nan mengintai.

Karena habitatnya nan sangat terlokalisasi dan dekat dengan pemukiman penduduk, kerusakan sekecil apa pun pada ekosistem tersebut dapat memicu akibat kepunahan lokal nan permanen.

Hubungan Ekologis dengan Bekantan

Selain karakter botaninya, mangrove ini mempunyai peran ekologis krusial bagi hewan endemik. Peneliti menemukan indikasi kuat bahwa C. philippinensis merupakan bagian dari kediaman alias sumber pakan bagi Bekantan (Nasalis larvatus).

Peneliti menemukan jejak gigitan primata pada daun mangrove langka ini. Informasi dari nelayan setempat juga mengonfirmasi seringnya terlihat golongan Bekantan di sekitar letak pertumbuhan C. philippinensis.

Spesies ini tumbuh di area mangrove lapis kedua dengan karakter tanah berpasir nan tergenang saat pasang tinggi. Ia hidup berdampingan dengan vegetasi lain seperti Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, dan Xylocarpus granatum.

Guna mencegah kepunahan, tim peneliti merekomendasikan langkah-langkah konservasi nan mendesak, antara lain perlindungan ketat terhadap kediaman alami nan tersisa, restorasi area mangrove nan telah mengalami kerusakan, penyimpanan material genetik (plasma nutfah), serta pengembangan konservasi ex-situ melalui teknik perbanyakan tanaman secara terkontrol. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia