Arief Setyadi
, Jurnalis-Senin, 18 Mei 2026 |16:34 WIB

Ilustrasi kekerasan seksual (Foto: Ist)
JAKARTA — Pegiat sosial Indonesia Youth Awakening Center (IYAC) Priyo Pamungkas Kustiadi, menyoroti maraknya kasus kekerasan di pondok pesantren sebagai ancaman nan serius. Fenomena ini tidak hanya menakut-nakuti keselamatan anak dan remaja, namun berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan moral dan keagamaan.
Berbagai kasus nan terungkap menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem pengawasan, perlindungan santri, serta relasi kuasa nan tertutup di sejumlah lembaga pendidikan berbasis asrama.
“Pesantren sejatinya adalah tempat pembentukan adab dan karakter bangsa. Namun ketika kekerasan seksual terus berulang tanpa pengawasan dan sistem perlindungan nan kuat, maka nan dipertaruhkan bukan hanya masa depan korban, tetapi juga kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan keagamaan,” katanya lewat siaran pers, Senin (18/5/2026).
Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan terdapat 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 hingga 36 persen terjadi di lembaga pendidikan berbasis agama, termasuk pesantren.
Catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga menyebut pesantren dan lembaga pendidikan berbasis kepercayaan berada di urutan kedua dalam pengaduan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan selama periode 2020–2024. Kasus-kasus nan terungkap sepanjang 2025 hingga 2026 dinilai memperlihatkan pola nan terus berulang.
Korban disebut tetap kesulitan melapor, terdapat tekanan sosial untuk menutupi kasus, serta lambatnya proses hukum. Bahkan, salah satu kasus di Jawa Tengah baru diproses dua tahun setelah laporan awal diterima abdi negara penegak hukum.
Priyo menambahkan, IYAC memandang kondisi tersebut turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap sistem pendidikan pesantren. Di tengah era keterbukaan informasi, masyarakat dinilai semakin kritis dalam memilih lembaga pendidikan nan kondusif bagi anak-anak mereka.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·