Membangun Relasi yang Sehat antara Orang Tua dan Sekolah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi anak dan orang tua. Foto: Thinkstock

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah merupakan komponen krusial dalam mendidik anak. Sayangnya, sering kali batas menjadi kabur antara partisipasi nan mendukung dan intervensi nan justru merusak profesionalisme sekolah.

Dalam banyak kasus, ada kecenderungan partisipasi orang tua menjadi berlebihan, mulai dari mendikte tugas sekolah hingga mengintervensi urusan nan semestinya merupakan tugas otonom seorang guru.

Untuk menciptakan lingkungan pendidikan nan optimal, perlu pemahaman mendalam mengenai koridor keterlibatan nan sehat, nan didasarkan pada prinsip kemitraan, penghormatan terhadap profesionalisme guru, dan pembagian peran nan jelas antara orang tua dan pembimbing alias sekolah.

Keterlibatan orang tua nan sehat kudu didasarkan pada prinsip relasi nan setara dan saling menghargai antara pihak sekolah dan orang tua. Hubungan ini tidak boleh berkarakter transaksional alias didasari oleh relasi kuasa, di mana orang tua merasa berkuasa mendikte sekolah hanya lantaran merasa mempunyai status sosial alias ekonomi nan lebih tinggi.

Ilustrasi anak-anak mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, orang tua dan sekolah kudu berada dalam satu bingkai konvensi berbareng untuk mencapai tujuan besar pendidikan, ialah menuntun anak menjadi pribadi dewasa nan merdeka, otonom, dan bisa membikin keputusan moral secara mandiri.

Secara ideal, koridor keterlibatan orang tua diarahkan pada aspek manajemen dan tata kelola sekolah, bukan pada wilayah teknis pedagogis nan merupakan ranah ahli guru—orang tua, melalui wadah seperti komite sekolah.

Dalam forum komite sekolah, khususnya sekolah negeri, semestinya orang tua dapat berkedudukan aktif dalam penyusunan anggaran pendapatan dan shopping sekolah, memantau akuntabilitas pengelolaan biaya demi kepentingan pendidikan, ataupun menyusun garis besar program sekolah pada tahun ajaran.

Ini pun kudu dilakukan secara sehat lantaran kenyataannya sering terjadi distorsi di mana komite sekolah justru hanya dijadikan perangkat legitimasi bagi pungutan sekolah, alias sebaliknya, menjadi celah bagi perseorangan untuk melakukan penetrasi nan merusak manajemen internal sekolah.

Ilustrasi pungutan. Foto: Shutterstock

Tentu saja keterlibatan orang tua siswa tidak hanya terbatas dalam forum sekolah. Akan lebih baik lagi andaikan hubungan orang tua siswa dan pembimbing diwadahi dalam forum berbareng antara pembimbing dan orang tua siswa di tiap kelas. Forum nan lebih mini bakal membantu kedekatan dalam interaksi, sehingga menjadi lebih berarti dalam mendialogkan persoalan-persoalan nan terjadi di sekolah.

Menghormati otonomi ahli pembimbing adalah pilar lain dari keterlibatan nan sehat. Guru kudu dipandang sebagai tenaga ahli nan mempunyai ruang diskresi dalam memutuskan tujuan, konten, maupun metode dalam mengajar, serupa dengan otoritas otonom master di ruang praktik.

Intervensi nan terlalu perincian dari orang tua—seperti nan terjadi pada kejadian "monster parents" di banyak sekolah elite di negara maju—dapat menyebabkan tekanan luar biasa bagi para guru, nan pada gilirannya bakal menghilangkan kepercayaan pada pembimbing dan sekolah. Bila ini terjadi, akibat lebih jauhnya adalah menurunnya mutu pendidikan lantaran sekolah dipaksa berdiskusi pada kepentingan dan selera sesaat orang tua nan berpengaruh.

Meski orang tua diperbolehkan memberikan masukan jika memandang tindakan alias praktik nan mencederai anak, komunikasi tersebut kudu dilakukan secara santun dan melalui jalur nan tepat tanpa mempermalukan pembimbing ataupun pengurus sekolah.

Ilustrasi sekolah. Foto: Shutterstock

Relasi nan sehat juga melibatkan peran aktif sekolah dalam menjalankan kegunaan parenting bagi orang tua murid. Sebagaimana konsep Trisentra Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, lembaga pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari tiga pusat, ialah orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah mempunyai tanggung jawab untuk menularkan pengetahuan pedagogis kepada orang tua agar mereka memahami langkah mendidik anak dengan benar. Sering kali, tekanan dari orang tua nan kurang teredukasi justru memaksa sekolah mengambil kebijakan nan salah, seperti memaksakan sistem peringkat, hafalan, alias pun pencapaian tertentu.

Misalnya, tekanan dari orang tua agar anak bisa membaca dan menulis di tingkat PAUD, padahal pada tahap ini pendidikan semestinya lebih mengedepankan aspek mobilitas dan bermain, bukan motorik halus. Tentu saja ini mensyaratkan guru-guru menguasai pengetahuan pendidikan dan praktik-praktik mendidik anak nan meluas dan mendalam.

Keterlibatan orang tua nan sehat di sekolah semestinya merupakan keterlibatan nan memberdayakan, bukan mendominasi. Batasannya terletak pada dukungan, masukan, dan kritik sembari memberikan kepercayaan penuh kepada pembimbing untuk menjalankan kegunaan pedagogisnya. Dengan menjaga komunikasi individual nan sehat maupun komunikasi melalui komite sekolah, kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan nan sehat untuk anak bertumbuh dan berkembang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan