Mendikdasmen Abdul Mu'ti Buka Suara 200 Ribu Anak RI Terpapar Judol

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti angkat bicara soal temuan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) nan mencatat 200 ribu anak Indonesia terpapar gambling online (judol). Ironisnya, 80 ribu di antaranya merupakan bocah di bawah usia 10 tahun.

Mu'ti menduga kuat ratusan ribu anak tersebut awalnya terjebak lantaran ketidaktahuan, serta minimnya edukasi dan mitigasi.

Menurutnya, kebanyakan anak dinilai hanya beriktikad bermain game di ponsel mereka, namun berhujung tersesat ke situs judol akibat longgarnya pengawasan orang tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena sebagian mereka nan terpapar [judi online] juga anak-anak nan sebagian memang lantaran tidak tahu. Jadi, mereka mungkin main game, kemudian tersesat ke gambling online," kata Mu'ti saat ditemui di Gedung Islamic Center, Surabaya, Rabu (20/5).

Selain aspek gawai tanpa kontrol, Mu'ti menyebut pengaruh lingkungan sekitar turut andil membikin anak-anak dengan mudah terdistraksi oleh aktivitas judol.

"Supaya memang ada nan misalnya lantaran pengaruh lingkungan alias lantaran keadaan tertentu memang mereka kemudian apa terjerumus pada gambling online," ucapnya.

Dia menegaskan Kemendikdasmen telah bergerak sigap melakukan pencegahan komprehensif. Mu'ti mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan abdi negara penegak norma serta lintas kementerian.

Langkah konkret nan diambil adalah menyepakati patokan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun berbareng lima menteri lainnya dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

"Kami kan sudah ada penandatanganan kesepakatan berbareng enam kementerian ya, termasuk dengan Kapolri mengenai dengan penggunaan teknologi digital, termasuk juga pembatasan penggunaan media sosial untuk mereka nan di bawah 16 tahun," tegasnya.

Langkah preventif juga langsung diterapkan ke dalam sistem pendidikan formal. Kemendikdasmen resmi memasukkan materi penyuluhan ancaman judol ke dalam agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru.

"Kami di kementerian melalui program MPLS itu kelak juga di antara materinya adalah penyuluhan tentang ancaman gambling online bagi anak-anak sekolah," ujarnya.

Kendati demikian, Mu'ti mengingatkan upaya menyelamatkan masa depan generasi bangsa dari pecandu gambling online tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah sebagai regulator. Ia mendesak penguatan dari empat poros ekosistem pendidikan demi memutus rantai masalah ini.

"Kami memberikan penyuluhan terus-menerus, termasuk upaya kami untuk memperkuat empat ekosistem pendidikan. Sekolah, rumah, masyarakat, dan media. Ini juga krusial untuk gimana agar anak-anak kita ini tidak terpapar oleh gambling online nan memang sekarang dari masalah nan sangat serius," pungkas Mu'ti.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap nyaris 200 ribu anak Indonesia telah terpapar gambling online (judol).

Dia mengatakan sebanyak sekitar 80 ribu di antaranya adalah anak di bawah 10 tahun. Menurutnya, temuan tersebut merupakan sirine serius bagi masa depan generasi bangsa.

Meutya menegaskan gambling online adalah ancaman serius nan merusak ekonomi keluarga, memicu kekerasan rumah tangga, memecah belah hubungan sosial, dan menghancurkan masa depan anak-anak.

"Judi online adalah scam nan sistemnya memastikan pemain nyaris selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang. Karena itu, kita semua kudu menjadi garda edukasi, saling mengingatkan, serta melindungi family dan anak-anak kita dari maraknya praktik terlarangan ini," kata Meutya dalam keterangannya, Rabu (13/5).

(frd/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional