Mengenal Bruxism: Kebiasaan Menggertakkan Gigi Saat Tidur dan Dampaknya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Kebiasaan Menggertakkan Gigi Saat Tidur dan Dampaknya Ilustrasi(Freepik)

KEBIASAAN menggertakkan gigi saat tidur, alias nan secara medis dikenal sebagai bruxism, sering kali dianggap sebagai gangguan ringan. Namun, master kesehatan menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan gigi, melainkan melibatkan sistem kompleks pada otak dan sistem saraf pusat.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, Sp.N, menjelaskan bahwa sleep bruxism merupakan gangguan tidur nan memerlukan perhatian serius jika terjadi secara terus-menerus. Kondisi ini ditandai dengan aktivitas repetitif rahang bawah nan memicu gesekan antar gigi.

"Suara nan dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berakibat jelek pada kesehatan gigi maupun sendi rahang," ujar dr. Yeni.

Mekanisme Neurologis dan Aktivitas Otot

Secara medis, bruxism terjadi lantaran adanya peningkatan aktivitas pada otot-otot pengunyahan, seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Yeni menyebut bahwa aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol aktivitas pada sistem saraf, terutama nan melibatkan sistem dopaminergik.

"Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur aktivitas tersebut," tambahnya.

Dalam pengelompokkan medis, bruxism masuk ke dalam kategori parasomnia, ialah perilaku tidak diinginkan nan muncul saat seseorang tertidur.

Data dan Fakta Terkait Bruxism

Aspek Keterangan
Prevalensi Usia Paling sering ditemukan pada anak usia 3–12 tahun.
Distribusi Gender Relatif sama antara laki-laki dan wanita.
Faktor Pemicu Utama Stres, kecemasan, genetik, kurang tidur, dan obat-obatan tertentu.
Komplikasi Terkait Obstructive Sleep Apnea (OSA), nyeri rahang, dan sakit kepala.

Peran Stres dan Kesehatan Mental

Selain aspek fisik, Yeni menekankan bahwa aspek psikologis memegang peranan krusial. Berdasarkan meta-analisis, terdapat hubungan kuat antara tingkat stres seseorang dengan akibat munculnya bruxism. Pengelolaan emosi dan tekanan mental menjadi kunci utama dalam meredam intensitas aktivitas rahang saat tidur.

Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti gangguan irama sirkadian dan nyeri kronis. Oleh lantaran itu, bruxism tidak boleh dianggap sepele, terutama jika sudah menimbulkan indikasi bentuk nan nyata.

Kapan Harus ke Dokter?

Masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan medis andaikan mulai merasakan gejala-gejala berikut:

  • Nyeri pada area rahang alias sendi rahang (TMJ).
  • Gigi mengalami retak, aus, alias menjadi sangat sensitif.
  • Gangguan saat mengunyah makanan.
  • Sakit kepala berulang saat bangun tidur.

"Jika disertai gangguan tidur alias dicurigai berangkaian dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh master spesialis," tegas Yeni.

Langkah Penanganan

Penanganan bruxism dilakukan secara komprehensif dengan menyesuaikan penyebab dasarnya. Beberapa langkah nan disarankan meliputi:

  1. Perbaikan Higiene Tidur: Meningkatkan kualitas tidur dan menjaga agenda tidur nan teratur.
  2. Manajemen Stres: Melakukan relaksasi untuk mengurangi beban psikologis.
  3. Pelindung Gigi (Night Guard): Menggunakan perangkat unik untuk mencegah kerusakan gigi akibat gesekan.
  4. Terapi Farmakologi: Dalam kasus tertentu, master mungkin meresepkan obat pelemas otot sebelum tidur.

Dengan pemahaman nan tepat dan penanganan sejak dini, bruxism dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan komplikasi jangka panjang pada kesehatan gigi maupun sistem saraf pusat. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia