Mengenal Buta Warna: Penyebab, Faktor Genetik, dan Cara Deteksinya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Penyebab, Faktor Genetik, dan Cara Deteksinya Ilustrasi(Freepik)

PERNAHKAH Anda merasa kesulitan membedakan warna tertentu, seperti merah dan hijau? Kondisi ini bukan sekadar masalah penglihatan biasa, melainkan tanda adanya gangguan penglihatan warna nan secara medis dikenal sebagai discromatopsia alias buta warna.

Menariknya, banyak orang baru menyadari kondisi ini saat menjalani tes kesehatan formal, seperti untuk keperluan masuk sekolah, melamar pekerjaan, alias pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). Padahal, gangguan ini umumnya berkarakter bawaan sejak lahir.

Faktor Keturunan dan Peran Kromosom X

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Drasthya Zarisha, menjelaskan bahwa kebanyakan kasus gangguan penglihatan warna berkarakter kongenital alias bawaan. Hal ini disebabkan oleh kelainan pada sel kerucut di retina nan berfaedah menangkap dan membedakan spektrum warna.

Secara genetik, buta warna berangkaian erat dengan gen resesif pada kromosom X. Inilah argumen kenapa pola penurunannya tergolong unik:

  • Peran Ibu: Ibu sering kali menjadi carrier (pembawa gen). Jika ibu membawa gen tersebut, anak laki-laki mempunyai akibat lebih tinggi lantaran hanya memerlukan satu kromosom X nan terdampak.
  • Anak Perempuan: Membutuhkan dua kromosom X nan terdampak untuk betul-betul mengalami buta warna.
  • Peran Ayah: Seorang ayah nan buta warna tidak otomatis menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya, lantaran anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.

Klasifikasi dan Metode Deteksi

Untuk membedakan jenis gangguan nan dialami, dr. Drasthya membaginya ke dalam dua kategori utama, ialah buta warna total dan parsial. Berikut adalah perbandingannya:

Jenis Buta Warna Karakteristik Penglihatan Dampak Tambahan
Total (Akromatopsia) Hanya memandang nuansa abu-abu; sel kerucut tidak berfungsi. Ketajaman penglihatan menurun (ringan hingga berat).
Parsial Gangguan hanya pada sebagian spektrum warna (misal: merah-hijau). Umumnya ketajaman penglihatan tetap normal.

Untuk mendeteksi kondisi ini, metode nan paling umum digunakan adalah Buku Ishihara. Tes ini menggunakan lempeng warna pseudoisokromatis untuk menguji keahlian mata dalam membedakan warna. Jika mau mengetahui lebih dalam mengenai keterlibatan genetik, pasien disarankan melakukan pemeriksaan genetik secara spesifik.

Adaptasi dan Penanganan

Hingga saat ini, belum ada metode medis nan dapat mencegah alias menyembuhkan buta warna bawaan lantaran kerusakan terjadi pada "sensor warna" di retina sejak lahir. Namun, dr. Drasthya menekankan bahwa penderita tetap bisa menjalani aktivitas normal dengan strategi adaptasi.

Beberapa langkah penyesuaian nan bisa dilakukan antara lain:

  1. Menggunakan strategi membaca kode warna alias posisi (misalnya pada lampu lampau lintas).
  2. Pemberian label pada barang-barang tertentu.
  3. Memanfaatkan aplikasi ponsel pandai nan dirancang unik untuk membantu identifikasi warna.

Berbeda dengan kasus bawaan, buta warna nan didapat (acquired) akibat penyakit tertentu tetap mempunyai kemungkinan untuk diperbaiki persepsi warnanya, asalkan penyebab utamanya dapat diobati secara medis. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia