Mengenal Hantavirus: Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pencegahan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Hantavirus kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dan memicu kekhawatiran mengenai potensi penyebarannya. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah virus ini mempunyai tingkat penularan nan masif layaknya covid-19 alias flu musiman.

Hantavirus merupakan golongan virus nan dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Nama virus ini diambil dari Sungai Hantaan di Korea Selatan, letak di mana virus tersebut pertama kali diidentifikasi. Meski kasusnya tergolong jarang dibandingkan penyakit virus lainnya, Hantavirus tetap menjadi ancaman serius lantaran dapat menyebabkan gangguan fatal pada organ paru-paru dan ginjal.

Bagaimana Hantavirus Menyebar?

Berbeda dengan COVID-19, Hantavirus tidak mudah menyebar antarmanusia. Mengutip info medis dari RS Mitra Keluarga, penularan utama terjadi melalui transmisi udara (airborne) dari partikel nan terkontaminasi.

Seseorang dapat terinfeksi jika menghirup udara nan mengandung partikel urine, air liur, alias kotoran tikus nan terinfeksi. Risiko penularan meningkat tajam di area nan menjadi sarang tikus, seperti:

  • Gudang alias loteng nan lembap.
  • Lumbung padi dan area pertanian.
  • Rumah kosong nan lama tidak ditempati.

Selain melalui udara, virus dapat masuk melalui luka terbuka, selaput lendir mata, alias gigitan tikus, meskipun kasus ini sangat jarang ditemukan. Secara umum, hubungan sosial di tempat umum seperti instansi alias sekolah tidak menjadi jalur penyebaran virus ini.

Dampak Kesehatan: Menyerang Paru-Paru dan Ginjal

Infeksi Hantavirus dapat memicu dua kondisi klinis utama nan membahayakan nyawa:

1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
Menyerang sistem pernapasan. Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, dan mual. Dalam hitungan hari, paru-paru dapat terisi cairan nan menyebabkan sesak napas akut hingga kandas napas.

2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Menyerang kegunaan ginjal. Gejalanya meliputi sakit kepala hebat, nyeri punggung, penglihatan kabur, hingga perdarahan internal pada fase nan lebih parah.

Belum Ada Obat Khusus

Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus spesifik alias vaksin nan secara unik menyembuhkan Hantavirus. Penanganan medis berfokus pada perawatan suportif untuk menjaga stabilitas kondisi pasien.

Pada kasus HFRS (ginjal), penggunaan obat antivirus seperti Ribavirin terkadang dilakukan, namun efektivitasnya untuk kasus HPS (paru-paru) belum terbukti secara klinis. Pasien nan mendapatkan terapi oksigen dan penanganan intensif lebih awal mempunyai kesempatan pemulihan nan jauh lebih tinggi.

Langkah Pencegahan Utama

Kunci utama menghindari Hantavirus adalah dengan memutus rantai kontak dengan hewan pengerat. Berikut adalah langkah-langkah preventif nan dianjurkan:

  1. Sanitasi Rumah: Menutup celah alias retakan tembok agar tikus tidak bisa masuk ke dalam hunian.
  2. Manajemen Makanan: Menyimpan bahan makanan dalam wadah tertutup rapat dan berbahan keras.
  3. Kebersihan Lingkungan: Membersihkan tumpukan peralatan jejak alias kayu nan berpotensi menjadi sarang tikus.
  4. Prosedur Pembersihan Aman: Saat membersihkan penyimpanan alias rumah kosong, buka jendela selama 30 menit untuk sirkulasi udara. Gunakan masker dan sarung tangan, serta semprotkan disinfektan pada kotoran tikus sebelum dibersihkan guna mencegah partikel virus terbang ke udara.

Meskipun tidak menular secepat virus pernapasan lainnya, kewaspadaan tetap diperlukan. Jika Anda mengalami indikasi demam dan sesak napas setelah beraktivitas di area nan berisiko tinggi populasi tikus, segera hubungi akomodasi kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. (RS Mitra Keluarga/E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia