loading...
Serangan tawon Vespa nan berkali-kali rupanya bisa membahayakan jiwa. Foto: Sindonews/Gemini
JAKARTA - Membersihkan tandon air biasanya hanyalah agenda rutin akhir pekan nan menjemukan, namun bagi Slamet Arifianto (53), aktivitas sederhana ini justru menjadi pintu gerbang menuju maut.
Di atas rumahnya di Desa Mujur, Cilacap, koloni predator telah menunggu, siap mempertahankan wilayahnya dengan taruhan nyawa manusia.
Kamis (26/2/2026) siang itu, Slamet naik ke area tandon air di wilayah Pecangakan dengan niat membersihkan lumut nan menyumbat.
Namun, aktivitas alias sentuhan tak sengaja pada struktur tandon diduga mengusik sarang tawon Vespa affinis nan berlindung di sana. Dalam sekejap, udara tenang di atas rumah itu berubah menjadi bunyi dengungan nan mengancam. Kawanan tawon keluar secara masif dan langsung menghujani tubuh Slamet dengan sengatan bertubi-tubi.
Kondisi Slamet memburuk dengan sangat cepat. Setelah sempat dilarikan ke RSU PKU Kroya dalam kondisi kritis, dia dirujuk ke RSUD Banyumas untuk penanganan intensif.
Namun, racun nan sudah menyebar ke organ vitalnya tak lagi bisa dibendung. Slamet dinyatakan meninggal dunia, menambah daftar panjang korban jiwa akibat serangga nan oleh penduduk lokal dijuluki "tawon ndas" ini.
Mengenal Si Predator: Vespa Affinis

Vespa affinis bukanlah lebah madu nan condong pasif. Ia adalah tawon predator nan sangat melindungi terhadap sarangnya. Secara fisik, tawon ini mudah dikenali dari ukurannya nan cukup besar untuk ukuran serangga terbang; tawon pekerja mempunyai panjang tubuh sekitar 2,5 sentimeter, sementara sang ratu bisa mencapai 3 cm.
Identitas visualnya sangat kontras: tubuh didominasi warna hitam mengkilap dengan "sabuk" berwarna kuning alias jingga terang pada bagian perut (abdomen) depan.
Kepalanya condong berwarna cokelat kemerahan. Di Indonesia, habitatnya meluas dari rimba hingga ke jantung pemukiman padat penduduk.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·