Menguatkan Karakter Patriotik, Gigih, dan Empati di Tengah Ketidakpastian

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Menguatkan Karakter Patriotik, Gigih, dan Empati di Tengah Ketidakpastian (MI/Seno)

DI tengah bumi nan semakin tidak pasti nan ditandai bentrok geopolitik, krisis ekonomi, dan disrupsi sosial, bangsa-bangsa dituntut tidak hanya kuat secara ekonomi dan militer, tetapi juga kukuh secara karakter. Dalam konteks itu, ada tiga nilai nan menjadi fondasi penting, ialah patriotik, gigih, dan empati. Ketiganya bukan sekadar konsep normatif, melainkan juga kualitas nyata nan menentukan daya tahan suatu bangsa dalam menghadapi tekanan.

Patriotik, gigih, dan empati bukanlah nilai nan berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Patriotik tanpa empati bisa berubah menjadi eksklusivisme. Gigih tanpa empati bisa menjadi keras dan tidak manusiawi. Sementara itu, empati tanpa gigih bisa membikin seseorang mudah menyerah. Ketika ketiga nilai itu terintegrasi, terbentuklah karakter nan kuat sekaligus human sebagai kunci ketahanan suatu bangsa. Dalam teori pembangunan manusia, perihal itu sejalan dengan pendekatan human development nan menekankan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari ekonomi, tetapi juga kualitas manusia itu sendiri.

Pengalaman rakyat Iran dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk ketegangan berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel, dapat menjadi contoh menarik. Terlepas dari beragam perdebatan politik nan menyertainya, ada satu perihal nan susah diabaikan, ialah daya tahan masyarakatnya. Mereka tidak mudah goyah oleh ancaman, tidak sigap menyerah dalam tekanan, dan tetap menjaga solidaritas sosial di tengah keterbatasan. Itu sekaligus sebagai pelajaran krusial gimana karakter kolektif patriotik, gigih, dan empati dibentuk dan dipertahankan.

PATRIOTIK: LEBIH DARI SEKADAR SIMBOL

Patriotik sering kali dipahami secara sempit sebagai kecintaan terhadap simbol-simbol negara termasuk bendera, lagu kebangsaan, alias seremoni kenegaraan. Padahal, sejatinya jauh lebih dalam lantaran dia merupakan kesediaan untuk menempatkan kepentingan berbareng di atas kepentingan pribadi, terutama dalam situasi sulit.

Rakyat Iran mewujudkan karakter itu bukan semata-mata dalam corak berkarakter seremonial. Dalam beragam kondisi tekanan ekonomi akibat hukuman internasional, misalnya, mereka tetap mempertahankan aktivitas ekonomi domestik, mendukung produk lokal, dan menunjukkan loyalitas terhadap negara mereka. Itu mencerminkan apa nan dalam teori civic nationalism disebut sebagai keterikatan penduduk pada negara melalui komitmen aktif, bukan sekadar identitas simbolis.

Dalam konteks Indonesia, karakter patriotik semacam itu menjadi sangat relevan. Tantangan kita mungkin berbeda, ialah bukan perang terbuka, melainkan kejuaraan global, ketimpangan sosial, dan fragmentasi identitas. Namun, esensinya sama, ialah bahwa bangsa nan kuat adalah bangsa nan warganya mempunyai rasa mempunyai dan tanggung jawab terhadap negaranya.

GIGIH: KEKUATAN UNTUK BERTAHAN DAN BANGKIT

Karakter kedua nan menonjol adalah gigih alias kegigihan. Dalam banyak literatur psikologi, kegigihan dikenal sebagai grit, sebuah konsep nan dipopulerkan Angela Duckworth (2016). Dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance, dia mendefinisikan grit sebagai kombinasi antara ketekunan dan semangat jangka panjang dalam mencapai tujuan.

Kondisi Iran nan menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan akses global, dan ancaman bentrok tidak membikin masyarakat mereka berakhir bergerak. Sebaliknya, keterbatasan tersebut justru mendorong penemuan domestik, kemandirian, dan daya juang nan tinggi. Dalam situasi sulit, mereka tidak menunggu keadaan menjadi ideal, tetapi beradaptasi dan mencari jalan keluar.

Teori resilience dalam ilmu jiwa juga menjelaskan kejadian itu. Resiliensi adalah keahlian perseorangan alias golongan untuk memperkuat dan pulih dari tekanan. Dalam kitab Ordinary Magic: Resilience in Development, Ann Masten (2014) menyebut resiliensi bukanlah sesuatu nan luar biasa, melainkan 'ordinary magic'. Resiliensi alias nan umumnya lebih dikenal sebagai gigih adalah keahlian nan dapat dibangun melalui pengalaman, support sosial, dan nilai-nilai nan ditanamkan sejak dini.

Bagi Indonesia, pelajaran itu penting. Kegigihan tidak hanya dibutuhkan dalam menghadapi krisis besar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Krisis dimaksud mungkin saja ditemui dalam pendidikan, bumi kerja, hingga pelayanan publik. Tanpa kegigihan, kebijakan sebaik apa pun bakal susah diimplementasikan secara konsisten.

EMPATI: KEKUATAN YANG SERING TERLUPAKAN

Di kembali keteguhan dan keberanian, ada satu karakter nan sering luput diperhatikan, ialah empati. Dalam situasi tekanan, empati justru menjadi perekat sosial nan menjaga masyarakat tetap solid. Rakyat Iran, dalam beragam laporan sosial, dikenal mempunyai tingkat solidaritas nan tinggi, terutama dalam membantu sesama saat menghadapi kesulitan ekonomi. Itu menunjukkan kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada keberanian menghadapi musuh, tetapi juga pada kepedulian terhadap sesama warga.

Empati dalam teori ilmu jiwa sosial dijelaskan sebagai keahlian untuk memahami dan merasakan apa nan dialami orang lain. Daniel Goleman (1995) dalam bukunya, Emotional Intelligence, menempatkan empati sebagai salah satu komponen utama kepintaran emosional. Tanpa empati, hubungan sosial menjadi rentan dan kepercayaan susah dibangun.

FONDASI KETAHANAN BANGSA

Indonesia pada saat ini tidak berada dalam situasi perang seperti Iran. Namun, tantangan nan dihadapi tidak kalah kompleks. Hal itu disebabkan adanya disrupsi teknologi, polarisasi sosial, hingga tantangan dunia nan semakin kompetitif. Dalam situasi demikian, pembangunan karakter menjadi sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur. Program-program penguatan karakter kudu diarahkan tidak hanya ke aspek moral normatif, tetapi juga ke pembentukan daya tahan mental (resilience), rasa mempunyai bangsa, dan kepedulian sosial.

Bagi Indonesia, pelajaran itu relevan untuk membangun masa depan. Di tengah beragam tantangan, kita memerlukan generasi nan tidak hanya cerdas, tetapi juga handal dan peduli. Generasi nan tidak mudah goyah oleh tekanan, tetapi juga tidak kehilangan rasa kemanusiaan.

Pengalaman rakyat Iran memberikan pelajaran berbobot bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan teknologi alias kekuatan militer, tetapi juga oleh karakter warganya. Karakter patriotik membikin mereka tetap berdiri; gigih membikin mereka terus bergerak; dan empati membikin mereka tetap bersatu.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia