Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.(Antara)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini bukan disebabkan oleh kondisi fiskal pemerintah nan memburuk. Di tengah ketidakpastian dunia dan tekanan pasar finansial internasional, pemerintah menyatakan esensial fiskal Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat.
Dalam konvensi pers APBN KiTa jenis April 2026 di Jakarta, Selasa (19/5), Purbaya memaparkan bahwa kesehatan fiskal tersebut tercermin dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) nan stabil di kisaran 40%. Selain itu, defisit APBN tetap dijaga ketat di bawah periode pemisah 3% terhadap PDB.
“Ada nan bilang kan, siapa ya? Bahwa gara-gara fiskal acak-acakan rupiah melemah. Fiskalnya bagus sekali kok,” ujar Purbaya menepis spekulasi negatif mengenai kondisi ekonomi domestik.
Fundamental Fiskal Lebih Baik dari Negara Lain
Bendahara Negara tersebut menegaskan bahwa dibandingkan dengan sejumlah negara lain, kondisi fiskal Indonesia tetap relatif terjaga. Rasio debt to GDP nan berada di nomor 40% dinilai jauh lebih kondusif dibandingkan banyak negara nan saat ini menghadapi tekanan ekonomi lebih berat.
“Apalagi jika kita pakai ukuran debt to GDP, kita tetap di 40%. nan lain sudah acak-acakan semua,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa perbaikan ekonomi nasional tetap melangkah beriringan dengan terjaganya kondisi fiskal, nan dia sebut sebagai hasil dari penguatan kontribusi sektor swasta.
Pemerintah terus memastikan sektor swasta tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Selain itu, inflasi diyakini bakal tetap terkendali, salah satunya lantaran kebijakan pemerintah nan tetap mempertahankan subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.
Antisipasi Subsidi Energi
Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan Mata Uang Rupiah telah diperhitungkan dalam skema subsidi energi. Pemerintah telah mengambil dugaan nomor nilai tukar nan realistis dalam kalkulasi terbaru. "Jadi tidak usah khawatir, itu sudah kita perhitungkan," tegasnya.
Ketahanan di Tengah Tensi Geopolitik
Meski esensial domestik kuat, Menkeu mengakui bumi tetap menghadapi ketidakpastian tinggi akibat tensi geopolitik di Timur Tengah. Hal ini memicu tingginya nilai komoditas dunia seperti minyak, crude palm oil (CPO), emas, hingga tembaga.
Menurut Purbaya, penyelesaian bentrok ekonomi dan geopolitik dunia tidak bakal berjalan cepat. Namun, ketahanan ekonomi nasional dinilai tetap handal berkah koordinasi kebijakan fiskal dan moneter nan semakin erat.
“Itu terjadi didesain oleh Pak Presiden. Artinya kreasi Pak Presiden benar, dan ke depan bakal membaik terus kita,” kata Purbaya merujuk pada beragam program pemerintah nan dirancang untuk mendukung aktivitas bumi usaha.
Menutup penjelasannya, Purbaya menyampaikan bahwa keahlian ekonomi Indonesia pada April 2026 menunjukkan tren perbaikan. Ia berambisi kebenaran mengenai solidnya esensial ekonomi ini dapat tersampaikan luas kepada masyarakat agar tidak terjadi kekhawatiran nan berlebihan. (Ins/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·