Menlu Iran Abbas Araghchi Beri Ultimatum AS: Gencatan Senjata atau Perang

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Gencatan Senjata alias Perang Abbas Araghchi.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Iran memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) untuk segera menentukan sikap di tengah eskalasi bentrok Timur Tengah. Teheran menegaskan bahwa Washington kudu memilih antara mendukung gencatan senjata alias melanjutkan perang melalui proksinya, Israel.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa posisi Iran saat ini sangat tegas dan tidak dapat ditawar. "Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. Amerika kudu memilih antara gencatan senjata alias perang berkepanjangan melalui Israel. AS tidak dapat mempunyai keduanya," tulis Araghchi melalui platform X pada Rabu (8/4).

Krisis Kemanusiaan di Libanon

Araghchi juga menyoroti situasi kritis di Libanon nan terus menjadi sasaran agresi militer. Ia menegaskan bahwa bumi internasional tengah menyaksikan pembantaian nan terjadi di wilayah tersebut. "Bola ada di tangan Amerika dan bumi sedang mengawasi apakah AS bakal bertindak sesuai komitmennya," tambahnya.

Pernyataan Menlu Iran ini diperkuat oleh laporan instansi buletin semi-resmi Tasnim. Mengutip sumber terpercaya, Teheran menakut-nakuti bakal menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melanggar komitmen melalui serangan udara dan darat terhadap Libanon.

Eskalasi Serangan Israel

Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulai operasi terbaru di Libanon. Tentara Israel mengeklaim telah menyerang lebih dari 100 letak strategis hanya dalam waktu 10 menit di beragam wilayah, termasuk:

  • Beirut
  • Lembah Beqaa
  • Libanon Selatan

Agresi ini tetap berjalan meskipun gencatan senjata secara teknis telah bertindak sejak November 2024. Israel tercatat telah menyerang Iran sejak 28 Februari lalu serta melancarkan serangan darat di Libanon selatan sejak awal Maret 2026.

Diplomasi di Bawah Tekanan

Ketegangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada Selasa (7/4). Pengumuman tersebut merupakan hasil mediasi Pakistan ketika Teheran mengusulkan proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi.

Namun, pengumuman Trump tersebut disampaikan di bawah bayang-bayang ancaman. Sebelumnya, Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan bernegosiasi dengan peringatan keras bahwa Teheran bakal menghadapi kehancuran seluruh peradaban jika menolak.

Kini, perbincangan di Islamabad nan dijadwalkan pada Jumat mendatang berada di ujung tanduk, berjuntai pada keahlian Washington untuk meredam tindakan militer Israel di Libanon guna menjaga stabilitas pasokan daya dunia nan berakibat pada ekonomi dunia.

Peringatan Strategis: Ancaman Iran untuk menarik diri dari kesepakatan dapat memicu penutupan kembali Selat Hormuz, nan secara otomatis bakal melambungkan nilai minyak bumi dan memperburuk krisis daya global. (Anadolu/Ant/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia