Kondisi Libanon usai serangan sadis Israel.(Al Jazeera)
PEMERINTAH Mesir melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan keras nan mengutuk rangkaian serangan udara Israel di wilayah Lebanon. Kairo menilai agresi militer tersebut merupakan upaya sistematis untuk menyeret seluruh area Timur Tengah ke dalam kekacauan total.
Dalam pernyataan resminya pada Rabu (8/4), Kementerian Luar Negeri Mesir menegaskan bahwa tindakan Israel tersebut secara langsung merusak upaya deeskalasi nan sedang diupayakan oleh organisasi internasional.
"Republik Arab Mesir mengutuk keras serangkaian serangan udara Israel di beragam wilayah Libanon nan bersaudara. Serangan tersebut mencerminkan niat untuk melemahkan upaya deeskalasi internasional dan merupakan upaya baru Israel untuk menyeret area itu ke dalam kekacauan total," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Intensitas serangan Israel pada Rabu dilaporkan sangat mematikan. Berdasarkan info terbaru nan dirilis oleh Kementerian Kesehatan Libanon, akibat kemanusiaan dari serangan tersebut meliputi:
- Korban Meninggal Dunia: 112 orang dalam satu hari.
- Korban Luka-luka: 837 orang mengalami cedera dengan beragam tingkat keparahan.
Lonjakan jumlah korban ini terjadi di tengah situasi keamanan nan semakin tidak menentu, meskipun ada upaya diplomatik di tingkat dunia untuk meredakan ketegangan.
Celah dalam Perjanjian Gencatan Senjata
Situasi di Libanon menjadi semakin kompleks setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan penjelasan mengenai cakupan kesepakatan tenteram nan baru saja dicapai. Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel di Libanon tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata dengan Iran.
Alasan utama nan dikemukakan Washington adalah keberadaan aktivitas Hizbullah di Libanon nan dianggap sebagai entitas terpisah dari kesepakatan bilateral tersebut. Padahal, pada Selasa malam, Trump mengumumkan keberhasilan menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua minggu dengan Iran.
Kesepakatan AS-Iran tersebut mencakup poin-poin krusial, di antaranya:
- Pembukaan Selat Hormuz: Iran setuju untuk membuka kembali jalur pelayaran vital ini guna menstabilkan pasokan daya bumi dan menekan gejolak ekonomi global.
- Dialog Lanjutan: Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi bahwa Teheran bakal memulai pembicaraan resmi dengan AS pada Jumat mendatang di Islamabad, Pakistan.
Ancaman terhadap Stabilitas Regional
Mesir memperingatkan bahwa pengecualian Libanon dari payung deeskalasi ini dapat menjadi bumerang bagi stabilitas regional. Kairo mendesak agar seluruh pihak menahan diri guna mencegah eskalasi nan lebih luas nan dapat membatalkan kemajuan diplomatik nan telah dicapai di Islamabad.
Analisis Strategis: Sikap Mesir ini mencerminkan kekhawatiran negara-negara Arab bahwa bentrok di Libanon dapat menjadi pintu belakang yang merusak gencatan senjata AS-Iran. Tanpa gencatan senjata nan komprehensif di Libanon, pembukaan Selat Hormuz tetap berada dalam bayang-bayang ancaman sabotase militer. (Sputnik/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·