Misbakhun Heran Pendapatan BI Melonjak Saat Rupiah Digencet Dolar AS

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyoroti lonjakan penerimaan operasional Bank Indonesia (BI) nan melonjak hingga 212% dari sasaran pada 2025 di tengah tekanan terhadap rupiah.

Menurut Misbakhun, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik lantaran BI justru mencatat penerimaan besar saat pelemahan rupiah membebani masyarakat dan APBN.

"Ini kan menjadi pertanyaan kita, dan artinya di saat rupiah mengalami tekanan justru BI penerimaannya paling besar. Nah ini nan menjadi pertanyaan kita semua apakah rupiah ini dibiarkan melemah agar penerimaannya BI besar?" tanya Misbakhun dalam rapat kerja dengan Gubernur BI, Perry Warjiyo di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan paparan BI, realisasi penerimaan Anggaran Operasional hingga triwulan IV-2025 mencapai Rp 66,80 triliun alias 212,08% dari sasaran Anggaran Tahunan BI (ATBI) sebesar Rp 31,49 triliun. Sementara realisasi pengeluaran tercatat Rp 22,86 triliun alias 85,75% dari target.

Mayoritas penerimaan tersebut berasal dari pos Hasil Pengelolaan Aset Valas (HPAV) nan mencapai Rp 66,65 triliun. Angka itu melonjak jauh dibanding sasaran awal Rp 31,40 triliun alias setara 212,25% dari target

Namun, Misbakhun menilai lonjakan penerimaan tersebut tidak bisa otomatis dianggap sebagai prestasi. Sebab, kenaikan pendapatan BI terjadi berbarengan dengan pelemahan rupiah nan meningkatkan tekanan terhadap industri dan finansial negara.

"Apakah kemudian ketika aset pengelolaan valas ini meningkat tajam, di saat rupiah nan mengalami tekanan terus kemudian realisasinya di atas 100% ini prestasi alias apa? Angka di atas 100% ini bukan berfaedah super prestasi gitu loh jika kita lihat situasi nan sebenarnya," tambah dia.

Misbakhun menyinggung bahwa negara kudu berkorban dan mengeluarkan anggaran lebih besar untuk program subsidi BBM dan LPG. Belum lagi beban terhadap industri nan tetap mengandalkan impor terhadap bahan baku.

"Rogohan duit negara APBN untuk memberikan alas subsidi BBM, Energi, kemudian LPG kemudian nan lain. Dan pada saat nan sama BI justru menikmati kenaikan penerimaan," tambah Misbakhun.

Menjawab kritik tersebut, Perry membantah dugaan bahwa BI sengaja membiarkan rupiah melemah demi meningkatkan penerimaan lembaga. Perry menegaskan surplus BI pada akhirnya juga kembali ke negara melalui setoran kepada pemerintah dan pembayaran pajak.

"Kami tidak ada niatan semuanya untuk neraca BI. Surplusnya BI itu ke pemerintah semua, pajaknya tinggi, kami bayar juga. kami jika penerimaan tadi, jangan kami dinilai lantaran inginkami menaikkan. Kan pajak kami bayar, surplus kami kembalikan jadi penerimaan itu juga kembali kepada negara tapi kami pertimbangkan gimana benefit and cost secara nasional," jelas Perry.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance